0
Demokrasi di Era Revolusi dan Revolusi di Era Demokrasi
No. 1 PAPUA Merdeka News
|
Portal 

Demokrasi

Demokrasi secara awam diartikan sebagai sebuah pemerintahan yang dijalankan oleh suara mayoritas dan memperhatikan hak-hak kaum minoritas.

Menurut Wikipedia, Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana semua warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi mengizinkan warga negara berpartisipasi—baik secara langsung atau melalui perwakilan—dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum.

<https://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi>

Wikipedia mendefinisikan demokrasi dari proses pemilihannya. Selanjutnya dalam menjalankan pemerintahan yang dipilih maka, secara awam, demorakrasi ialah pemerintahan yang menghargai hak asasi manusia, dipilih lewat pemilihan umum, diangkat berdasarkan peraturan dan menjalankan pemerintahanya dengan tunduk kepada undang-undang yang berlaku di dalam negara yang bersangkutan.

Tidak sebatas proses pemilihan dan cara menjalankan pemerintahan, demokrasi juga belakangan ini telah menjadi sebuah cita-cita dari masyarakat modern, yang disebut sebagai masyarakat beradab (civilized human beings). Masyarakat yang demokratis telah menjadi sebuah tujuan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara Demokrasi tidak hanya dianggap sebagai sebuah sistem penyelenggaraan pemerintahan.

Abraham Lincoln mengatakan “Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.”

Sem Karoba mengatakan dalam realitasnya, “Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang diselenggarakan dari rakyat bersama para pihak berduit, oleh rakyat serta memanfaatkan suara rakyat dan untuk kepentingan perut.”

Singkatnya, demokrasi mengandung makna sebuah proses yang terjadi, sebuah konsultasi yang terjadi, sebuah penyelenggaraan pemerintahan yang dilaksanakan berdasarkan aturan-aturan yang telah disepekati bersama.

Revolusi

Revolusi mengandung dua arti: yang pertama ialah perubahan mendadak, dan yang kedua ialah perubahan secara total.

Menurut Wikipedia, Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat.[1] Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. <https://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi>

Revolusi tidak hanya terjadi secara sosial dan kebudayaan, tetapi juga dapat terjadi dalam berbagai aspek kehidupan: ekonomi, politik dan pemerintahan.

Revolusi yang terjadi secara mendadak ini kebanyakan dilakukan dengan cara mengangkat senjata, melakukan perombakan mendadak dan kebanyakan sangat berdarah-darah. Oleh karena itulah, di dunia post postmodern saat ini, banyak pihak tidak senang mendengar atau menggunakan nama “revolusi”, karena mereka membayangkan peristiwa-peristiwa berdarah-darah dan perombakan mendadak.

Revolusi yang berdarah-darah secara mendadak juga sering dikaitkan dengan komunisme, atau sosialisme, sehingga kebanyakan masyarakat di dunia barat tidak senang mendengar, membaca atau menggunakan kata ini.

Revolusi dalam arti perubahan menyeluruh, tidak hanya perubahan mendadak, sering digunakan oleh Sukarno, proklamator NKRI dalam pidato-pidato politiknya. Kita mendengarkan beliau sering mengatakan “revolusi multi-dimensi”, dan “revolusi total”. Dalam hal ini beliau memadukan antara revolusi total dan revolusi mendadak.

Yang dimaksud oleh Tentara Revolusioner West Papua (TRWP) dalam konteks perjuangan Papua Merdeka ialah sebuah perubahan yang menyeluruh, mulai dari perubahan cara berpikir, perubahan tentang gambar diri, perubahan sistem politik dan perubahan pemerintahan dan negara, secara total, secara keseluruhan.

Filsafat Revolusioner TRWP yang lain ialah perubahan ini dipimpin langsung oleh Sang Panglima Mahatinggi Revolusioner Semesta Alam Sepanjang Masa, Yahwe, di dalam Yesus Kristus, yang telah melakukan revolusi total sehingga merubah nasib manusia berdosa menjadi anak-anak Allah, dan merubah manusia yang harus masuk neraka menjadi layak masuk sorga, memanggil Allah sebagai Bapa.

TRWP mengatakan revolusi kemerdekaan West Papua harus dimulai dari cara kita berpikir dan memandang diri sendiri, dan dengan ukuran itu kita melihat dan menerima realitas kehidupan di luar hidup kita.

Demokrasi dan Revolusi

Dalam demokrasi terdapat unsur konsultasi, dan di dalamnya terdapat aspek kebersamaan. Dalam revolusi terdapat aspek keseluruhan dan kecepatan dalam perubahan.

Tentu saja proses perubahan yang cepat tidak dapat terjadi melalui proses tanya-jawab dan proses konsultasi yang berkepanjangan. Kalau proses yang terjadi adalah konsultasi, diskusi dan konsolidasi, maka perubahan itu disebut proses demokrasi, bukan proses revolusi.


Dalam demokrasi dibutuhkan pemimpin yang taat hukum, dan setia kepada kesepakatan bersama. Sementara dalam revolusi dibutuhkan seorang pemimpin yang tegas, cepat-tanggap dan bertanggung-jawab atas apa saja yang dilakukannya dan dampak yang ditimbulkan olehnya.

Revolusi membutuhkan pemimpin yang kuat, pemimpin yang tegas dan pemimpin yang tidak takut mengambil resiko, bahkan sampai resiko nyawanya-pun ia tidak memperdulikannya untuk memperjuangkan apa yang dianggapnya sebagai kebenaran yang harus direbut. Sedangkan demokrasi tidak membutuhkan pemimpin yang kuat, tetapi ia butuh pemimpin yang sabar dan mendengarkan semua pihak untuk berpendapat, dan kemudian menjalankan kebijakannya berdasarkan kesepahaman dan kesepakatan bersama.

Kelemahan terburuk dari demokrasi di era revolusi ialah revolusi harus dijalankan mengikuti momentum, sedangkan demokrasi dijalankan mengikuti suarat terbanyak. Dalam revolusi suara dari makhluk non-manusia lebih diutamakan dan sedangkan demokrasi lebuh mengutamakan suara manusia. Itulah sebabnya para tokoh revolusioner di dunia sering dilihat sebagai tokoh mistik, karena mereka lebih peka terhadap aspirasi dan gerakan segenap komunitas makhluk daripada sekedar gerakan dan keinginan manusia.

Kalau saja demokrasi dipraktekkan dalam era revolusi, maka yang akan dirugikan ialah nyawa bangsa yang sedang berjuang menentang sebuah tirani. Tirani akan semakin beringas dan semakin mengancam. Proses demokrasi di era revolusi bisa-bisa ditafsirkan sebagai sebuah kesengajaan untuk menghabisi kaum terjajah yang sedang melawan tirani kekuasaan.

Papua Merdeka Perlu Demokrasi atau Revolusi?
Bangsa Papua saat ini, tahun 2021 terbagi ke dalam tiga bagian. Yang pertama ialah bangsa Papua yang menginginkan revolusi kemerdekaan West Papua. Kelompok kedua ialah orang Papua yang menginginkan demokrasi kemerdekaan West Papua. Kelompk ketiga ialah orang Papua yang menginginkan status quo, membiarkan apa yang terjadi, kalau nanti merdeka bersyukur, dan kalau tidakpun masih tidak apa-apa, walaupun dengan ada rasa marah dan dongkol terhadap NKRI dan orang Indonesia.
  • Apakah revolusi dibutuhkan dalam perjuangan Papua Merdeka?
Jawabannya sangat sederhana. Bahwa siapa saja yang menginginkan Papua Merdeka artinya ia menginginkan revolusi, yaitu sebuah perubahan sistem pemerintahan Indonesia berubah ke sistem pemerintahan West Papua. Ini revolusi.

Kita bertanya lagi,
  • Apakah demokrasi dibutuhkan dalam perjuangan Papua Merdeka?
Jawabannya juga sangat sederhanay. Bahwa demokrasi akan diselenggarakan setelah Papua Merdeka, setelah NKRI keluar dari Tanah Papua.

Jawaban ini tentu saja memicu pertanyaan berikut:
Kalau begitu, proses demokrasi yang sedang terjadi dalam pemerintahan sementara West Papua saat ini?

Jawabannya kembali sangat sederhana. Bahwa proses demokrasi yang sedang terjadi dalam Pemerintahan Sementara United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) yang dipimpin oleh Presiden Sementara Hon Benny Wenda ialah proses bunuh diri.

Proses bertanya-jawab dengan para pendiri ULMWP dan para pihak di luar pilar ULMWP oleh seorang pemimpin revolusi Papua Merdeka ialah sebuah langkah yang secara teori dikatakan sebagia langkah salah waktu, mengingat era revolusi dan era demokrasi merupakan dua era yang tidak pernah berjalan bersamaan.

Semua orang paham bahwa pada era revolusi maka demokrasi tidak berlaku. Sebaliknya, pada era demokrasi maka revolusi tidak dapat dibenarkan.

Lalu bagaimana kalau demokrasi berlangsung di era revolusi?
Secara konsep berpikir, itu sebuah drama yang tidak menarik, karena ini sebuah drama salah waktu.

Penutup

Kebanyakan pemimpin revolusi tidak pernah berdemokrasi. Mereka perjuangkan demokrasi, akan tetapi mereka sendiri tidak pernah melaksanakannya.

Demikian juga, para tokoh demokrasi tidak pernah berjuang di era revolusi, mereka juga tidak melakukan revolusi dalam demokrasi. Akan tetapi mereka berbicara dan berbangga atas revolusi yang pernah terjadi.
  • Legacy yang akan ditinggalkan Hon. Interim Presiden Benny Wenda ialah sebuah legacy revolusi Papua Merdeka ataukah sebuah legacy Demorkasi Papua Merdeka?
__________
Baca juga:

Posted by: Admin
Copyright ©e-Papua "sumber" 
Hubungi kami di E-Mail ✉: tabloid.wani@gmail.com

Post a Comment

 
Top
banner