1
Pemuda Baptis Papua, Menilai Putusan Majelis Hakim Tak Adil
Foto 7 Tahanan Politik Korban Rasisme Papua Di Kaltim
No. 1 PAPUA Merdeka News | Portal

Oleh: Sepi Wanimbo, S.IP, M.KP 
[Ketua pemuda baptis di tanah Papua]

Wamena – Pemuda baptis di tanah Papua, menilai putusan Majelis Hakim di balikpapan pada hari ini 17 juni 2020, terhadap korban Rasisme tujuh aktivis Papua. Tuan Buctar Tabuni, Agus Kosay, Steven Itlay, Irwanus Urabmabi, Hengky Hilapok, Alex Gobay dan Fery Gombo yang korbang Rasisme bagi orang Papua di hukum 11 – 10 bulan penjara.

Padahal pelaku yang mengukapkan Rasisme terhadap orang Papua di Surabaya yang menyusut berbagai aksi protes atas Rasisme terhadap orang Papua ini hanya di tuntut 1 tahun penjara dan akhirnya hanya di vonis 5 dan 7 bulan penjara.

Yang seharusnya di vonis 10 – 11 bulan penjara adalah pelaku yang mengukapkan Rasisme bagi orang Papua itu.

Karena itu pemuda baptis Papua menilai, putusan Majelis Hakim tak adil, sehingga para penegak hukum, hukum jangan jadikan lahan bisnis untuk mendapatkan uang dengan nilai besar, juga jangan melindunggi orang yang bersalah, atau jangan memberikan keringanan bagi pelakunya yang mengukapkan Rasisme.

Jujur kami rakyat Papua ini manusia yang sempurna, tidak ada yang kurang, kami punya harga diri dan kami punya martabat, Sama dengan manusia di negara lain. Tetapi kami di injak – injak dan di permainkan sangat tidak manusiawi melalui tindakan- tindakan nyata yang kami sudah liat dan rasakan hari ini.

Ungkapan rasisme terhadap kami orang Papua, ini tak hanya kali ini tetapi saja meliat hampir setiap hari atau selalu saja ada terhadap kami orang Papua, kita liat realita/contoh beberapa kasus di bawah ini.

Pemain persipura yang sering di maki monyet di lapangan hijau oleh sporter tim luar Papua.

Frans Kaisepo adalah seorang pahlawan bagi Indonesia asal Papua di beri gambar bersama monyet berkeliara di media sosial.

Natalius Pigay, mantan Ketua Komnas Ham RI. sering di beri foto bersama goriila yang juga berkeliara di media sosial.

Kasus Rasisme juga terang – terangan juga terjadi kepada mahasiswa asal Papua di Surabaya yang mengakibatkan Papua gejolak.

Jangan terus – menerus mengukapkan Rasisme terhadap kami orang Papua. Karena kami orang Papua, bukan orang terbelakan lagi tetapi kami sudah sekolah, kami sudah belajar, kami sudah sangat paham dan kami sudah tau mana yang benar dan mana yang salah juga kami sudah mengerti karena kami orang Papua punya harga diri sama dengan saudara – saudara kita di negara lain.

Menjadi pertanyaan adalah mengapa nilai – nilai “Bhineka Tunggal lika” dan nilai – nilai Pancasila tidak di terapkan secara baik dan benar padahal di dalamnya nilai – nilai itu sudah mengajarkan kita semua sudah sangat jelas tentang nilai kebersamaan, kenujuran, keadilan, dan kedamaian semuanya yang ada itu hanya di abaikan begitu saja.

Karena itu kami Harapan para pengambil kebijakan/penegak hukum bagi orang – orang yang bersalah jangan dibenarkan, jangan dilindunggi dan dibiarkan begitu saja tetapi tegakanlah nilai-nilai keadilan, kejujuran, kedamaian secara jujur dan bermartab. Karena itu yang di diinginkan, dirinduhkan oleh seluruh rakyat Indonesia khusus kami di tanah Papua.

Semoga cetatan pendek ini menjadi berkat dan memberikan penyedaran bagi para pengambil kebijakan di tanah ini.

Selamat membaca sahabat – sahabatku sekalian, Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua amin.


Posted by: Admin
Copyright ©Lebahtoly "sumber"
Hubungi kami di E-Mail ✉: [email protected]

Post a comment

  1. Sejak integrasi sampai yg ada ini diperlakukan bukan kemanusiian yg adil dan beradap tapi sebaliknya. Krn visi misi mereka sdh jelas dari awal yakni datang untuk merampas tanah dan kekayaan alam. Ingat kata kata Ali Murtopo. Buka sejarah dan baca sendiri. Mhs dan pemuda Papua jangan lupa sejarah integrasi papua. Sejarah kita bbeda. Tidak ada jong Papua waktu sumpah pemuda.Dengar suara gembala kita pdt Socrates yg sering bersuara sebagai pastor bagi bangsa Papua. Ikuti gembala kita sebagai umatnya.soli deo gloria.

    ReplyDelete

 
Top
banner