0
Bangkitkan Kembali Roh “Kamam Beba” untuk Melawan Rasisme
Papua New Guinean Tribesmen (https://anthropology.net)
No. 1 PAPUA Merdeka News | Portal

Bangkitkan Kembali Roh “Kamam Beba” untuk Melawan Rasisme Supaya Menyelamatkan Rakyat West Papua yang Tersisa

Oleh Gembala Dr. Socratez S.Yoman,MA

Penulis berusaha menulis untuk mengingatkan para generasi penerus rakyat dan bangsa West Papua dengan tujuan supaya mereka tidak tenggelam dalam arus perubahan dan kehilangan identitas, jati diri dan martabat mereka. Ingatkan mereka bahwa ada warisan berharga sebagai kekuatan yang sedang dihilangkan oleh penguasa kolonial Indonesia dengan kepentingan penjajahan dan juga karena akibat perubahan modernisasi global yang terjadi saat ini.

1. "Kamam Beba" dalam suku Biak

Saudara-saudara saya dari Byak (Biak) mereka pasti tahu dan mengerti arti dan makna dari tiga kata, "Kamam Beba." Karena, ini kekuatan yang ada dalam hidup dan bahasa saudara-saudara dari Biak yang diberikan oleh Tuhan dan diwariskan oleh leluhur dan nenek moyang.

Penulis menggunakan tiga kata ini untuk membangkitkan semangat seluruh rakyat dan bangsa West Papua dari Sorong-Samarai.

Sebelumya, penulis menjelaskan arti masing-masing kata: Kamam artinya bapak. Beba artinya besar.

Terjemahan langsung : BAPAK BESAR." Atau arti yang lebih luas ialah "menghormati,tunduk kepada Bapak yang mulia, bapak terhormat,bapak yang dijunjung tinggi. Pemimpin Besar yang patut dihormati oleh rakyatnya."

Baca juga: (Rasisme, Kekerasan dan Genosida itu “Tiga Bersaudara”)

Penulis sampaikan d sebagai komparasi (perbandingan) kepada para pembaca bahwa di seluruh TANAH West Papua dalam setiap dari 250 suku ada para pemimpin mereka masing-masing dengan sebutan, istilah dan panggilan masing-masing. Di setiap suku ada pemimpin terhormat dan berkuasa serta berwibawa yang Tuhan hadirkan seperti pohon besar dan juga benteng yang kuat dan kokoh untuk menjaga, melindungi sukunya atau masyarakatnya.

2. "Ap Ndumma" dalam suku Lani

Seperti dalam filosofi hidup suku saya, yaitu orang Lani ada filosofi: "Ap Ndumma, Ap Nagawan, Ap Gain, Ap Endage Mbogut, Ap Wakangget, Ap Inowe, Apkumi Inogoba, Ap Nggok dan masih banyak sebutan lain.

(1) Ap Ndumma artinya laki-laki pembawa damai, penutur kebenaran, pembawa kasih serta kedamaian. Dalam masyarakat suku Lani, pembicaraan Ap Ndumma adalah kebenaran mutlak. Ap Nduma memiliki otoritas mulia. Intinya, suaranya tidak boleh dilawan. Kalau dilawan dan dilanggar, maka di kampung itu datang musibah dan malapetaka.

(2) Ap Nagawan artinya pemimpin yang berhikmat. Ap Nagawan hampir mendekati Ap Ndumma. Hanya berbeda dalam peran dan tugas-tugas mereka.

(3) Ap Gain artinya orang besar. Orang berpengaruh. Ap Gain hampir mendekati Ap Nagawan.

(4) Ap Endage Mbogut artinya Ap=laki-laki. Endage =Nama. Mbogut=langit. Atau orang terkenal. Orang yang namanya ada di langit.

(5) Ap Wakangget artinya laki-laki jagoan dalam perang.

(6) Ap Inowe artinya laki-laki pemimpin.

(7) Apkumi Inogoba artinya pemimpin untuk semua, baik laki dan perempuan serta anak-anak.

(8) Ap Nggok artinya orang besar. Ap Nggok dalam arti yang luas.

Selain dalam suku Byak (Biak) dan suku Lani ada juga dari suku-suku di West Papua.

3. "Sonowi" dalam Suku Moni

Dalam suku Moni ada sebutan "Sonowi", artinya orang besar. Orang terhormat. Orang yang kaya raya. Orang yang dihormati dan didengar. Pemimpin yang berperan sebagai pelindung dan penjaga rakyat.

4. "Ap Kain" dalam suku Hubula

Dalam suku Hubula (suku yang mendiami Lembah Balim ada panggilan para pemimpin.) 1. Ap kain 2. Ap metek. 3. Ap Wene elu. 4. Ap wene hule. 5. Ap etage pogot. 6. Ap kain kok. 7. Ap kain hesek.

Alm. Pastor Frans Lieshout, OFM dengan sempurna mengabadikan kepemimpinan suku Hubla di Lembah Balim seperti ini.

"Para pemimpin tradisional mengatur dengan penuh dengan wibawa kepentingan masyarakat mereka dan tidak ada orang yang menentang atau mendemo mereka. Maka profil asli orang Balim adalah kurang lebih sebagai berikut: Orang Balim biasanya tampil dengan gagah, ia suka mandiri, dan hidup dalam harmoni dengan alam sekitarnya, ia menjunjung tinggi kehidupan bersama dan bersatu dengan orang lain, ia mempunyai harga diri tinggi, ia trampil sebagai petani dan rajin bekerja. Ia bangga dan puas dengan keberadaannya dan tidak mudah mengemis. Ia mempertahankan nilai-nilai hidup baik dengan kontrol sosial yang kuat. Para pemimpin berpihak kepada kepentingan masyarakat..." (Sumber: Kebudayaan Suku Hubla Lembah Balim-Papua, 2019: hal.87)

Ada pilar-pilar pemimpin yang tangguh, berani, kuat, berhikmat, berilmu dan dalam hati mereka ada kebenaran, kasih serta kedamaian berasal dari TUHAN. Mereka pemilik dan pelaku keadilan dan kedamaian.
Bangkitkan Kembali Roh “Kamam Beba” untuk Melawan Rasisme
Pater Frans Lieshout OFM, misionaris asal Belanda yang berkarya di Papua. (foto:ist)
Pastor Frans Lieshout memuji para pemimpin suku ini dengan kalimat indah. "... Ia bangga dan puas dengan keberadaannya dan tidak mudah mengemis.,"

"Kamam Beba dalam suku Biak. Ap Ndumma, Ap Nagawan, Ap Nggok dalam suku Lani. Sonowi dalam suku Moni. Ap Kain, Ap Metek, Ap Wene Hule di suku Hubla" dan dalam 250 suku adalah para pemimmpin yang memiliki integritas.." tidak pernah mengimis."

Mengapa penulis memilih topik artikel ini
Bangkitkan Kembali Roh “Kamam Beba” untuk Melawan Rasisme Supaya Menyelamatkan Rakyat West Papua yang Tersisa?

Pastor Frans Lieshout menyampaikan, bahwa "...pagar sudah hancur, honai sudah rubuh, kebun sudah dimasuki babi liar, dan perahu sudah bocor dan sudah kemasukan air kabur."

Apa artinya ini? Semua nilai-nilai luhur, nilai-nilai moral, identitas dan jati diri yang dipegang oleh Kamam Beba, Ap Ndumna, Ap Nagawan, Ap Nggok, Sonowi, Ap Kain, Ap Metek, Ap Wene Hule sudah diambil alih oleh Kepala Desa, Kepala Kampung, Kepala Distrik, Bupati, Walikota, gubernur, dan Kepala Lembaga Masyarakat Adat (LMA) dan juga Kepala suku buatan militer Indonesia.

Lebih parah lagi ialah Orang Asli Papua direkayasa dijadikan pahlawan nasional, ternyata bukan dihargai sebagai pahlawan, tetapi dinilai sebagai "hewan monyet."

Ada ujaran RASISME terhadap "pahlawan nasional" Frans Kaisepo dalam mata uang Rp 10.000. Narazisah Asril dalam akunnya: "Saya tidak setuju dengan gambar uang baru yang mukanya menyerupai monyet!!! Bukannya memasang wajah pahlawan malah memasang wajah seperti itu."
(Baca: Melawan Rasisme dan Stigma di Tanah Papua, Yoman, 2020: hal. 17).

Pertanyaannya ialah apakah masih ada "Syowi Kamam Beba" dalam 250 suku sebagai benteng dan pagar bagi rakyat dan bangsa di West Papua yang tersisa ini?

Kalau dianggap bangsa kolonial Indonesia yang berwatak RASISME ini sudah berhasil menghancurkan "Kamam Beba" dalam 250 suku selama 58 tahun, maka apakah kolonial Indonesia turut berhasil merampas iman, martabat serta harapan kita?

Jawababnya: TIDAK. Kami 250 suku masih ada. Kami 250 suku masih ada di TANAH leluhur kami bersama "Kamam Beba dengan iman kepada TUHAN, bartabat kami dan harapan kami.

Kami 250 suku tetap berdiri kokoh dan kuat bersama "Kamam Beba" untuk melawan RASISME yang kejam dan brutal.

RASISME yang sudah berlangsung selama 58 tahun harus dilawan bersama "Kamam Beba dan Sonowi dan Ap Ndumma. Karena, RASISME adalah musuh Allah. RASISME adalah musuh seluruh umat manusia. Kata lain, RASISME itu musuh kemanusiaan secara global. RASISME sangat dibenci dan ditolak oleh seluruh umat manusia. Karena RASISME merendahkan martabat manusia.

Baca juga: (Kapitalisme, Sosialisme versus Trias Melanesia)

Sesungguhnya rakyat dan bangsa West Papua memiliki senjata ampuh sama seperti bom atom atau nuklir dengan daya ledak luas yang mematikan, yaitu kata RASISME. Rakyat West Papua menggunakan kata RASISME sebagai senjata ampuh untuk melawan kolonial Indonesia.

Doa dan harapan saya, artikel ini menjadi berkat bagi para pembaca.

Waa....kinaonak. Nowe Nawot.

Ita Wakhu Purom, 28 Mei 2020.

Penulis:
1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua;
2. Penggagas, Pendiri dan Pengurus serta Anggota DEWAN GEREJA PAPUA (FGP).


Posted by: Admin
Copyright ©Dr. Socratez Yoman "sumber"
Hubungi kami di E-Mail ✉: [email protected]

Post a comment

 
Top
banner