0
Artikel: Persamaan dan Perbedaan antara JDP dan ULMWP
FOTO: Pemimpin Dewan Gereja West Papua (WPCC). Kiri ke kanan: Presiden Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Pdt. Dorman Wandikbo (kiri), Pdt. Andrikus Mofu, M.Th (kedua dari kanan), Pdt. Dr. Ketua Sinode Gereja Kingmi di Tanah Papua, Pdt. Benny Giay (kedua dari kanan) dan Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua (PGGBP) Dr. Socratez S. Yoman, MA (kanan)
“Artikel: Persamaan dan Perbedaan Jaringan Damai Papua (JDP) dan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP)”
Oleh: Gembala Dr. Socratez S. Yoman, MA

Penulis mengajukan dua pertanyaan kunci.
  • Apakah JDP dan ULMWP ada persamaan dan perbedaan tujuannya? Jawabannya: ADA.
  • Apakah JDP dengan ULMWP sama kedudukannya? Jawabannya: TIDAK.

1. Jaringan Damai Papua (JDP)

Kalau orang sebut JDP, pasti semua orang ingat tokoh besar, tokoh perjuang keadilan, perdamaian dan kesetaraan, alm. Dr. Pather Neles Tebay. Alm Neles Kebadabi Tebay identik dengan spirit JDP.

Alm. Dr. Neles Tebay bersama Septer Menufandu, Markus Haluk, Nicodemus (Denny) Yomaki dan beberapa teman menjadi inisiator utama terbentuknya Jaringan Damai Papua.

Jujur saja, saya secara personal belum tahu banyak bagaimana proses terbentuknya Jaringan Damai Papua (JDP). Sampai saat ini, saya belum mempunyai dokumen tertulis tentang lahirnya JDP.

Misinya JDP jelas dan baik untuk berperan menjadi media untuk mempertemukan rakyat dan bangsa West Papua dengan pemerintah kolonial Firaun moderen Indonesia yang menduduki dan menjajah bangsa Papua, maka saya mendukung JDP dengan beberapa cara sesuai kapasitas yang saya miliki.

Sepak terjang alm.Neles Tebay dalam menghimpun semua elemen masyarakat Papua yang ada di Papua, di Indonesia, di Luar Negeri adalah pekerjaan terberat yang pernah dipikulnya. Alm Pather Neles telah meyakinkan semua orang bahwa persoalan konflik politik antar Indonesia dan Papua harus diselesaikan lewat jalan dialog damai.

Untuk menjelaskan secara menditail dinamika historis JDP tentu saja orang-orang berkompeten yang pernah menjadi inisiator bersama alm Dr. Pather Neles Tebay dari awal seperti Markus Haluk, Septer Menufandu dan Nicodemus (Denny) Yomaki. Karena untuk bicara seharah JDP bukan domain saya.

Terbentuknya JDP juga tidak terlepas dari orang-orang hebat yang Tuhan hadirkan di bumi ini. Karena itu, saya secara personal dan juga sebagai pemimpin gereja Baptis West Papua, saya sangat respek alm Dr. Muridan, alm Pather Dr. Neles Tebay, dan Ibu Dr. Adriana Elisabeth, Amiruddin Al Rahab, Cahyo Pamungkas dan Rodita Dewi yang sangat berjasa membentuk Jaringan Damai Papua.

Pada awalnya, mungkin juga sampai sekarang alm Dr. Muridan, Ibu Dr. Adriana Elisabeth dan kawan-kawannya dicaci maki, dituduh pendukung separatis Papua oleh negara. Sebaliknya, rakyat Papua juga menolak kehadiran mereka sebagai Tim Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan berbagai bentuk tekanan, caci-maki dan ejekan.

Walaupun mendapat tekanan dari dua kelompok ini, Ibu Dr. Adriana Elisabeth dan kawan-kawan, tanpa mengenal lelah, mereka menempatkan diri sebagai orang-orang profesional dan ilmuwan untuk membantu menemukan akar masalah Papua dengan cara dan jalan elegan, terhormat dan bermartamat.

Sudah pasti, proyek LIPI yang dikerjakan teman-teman dari Tim LIPI tidak dapat terwujud tanpa didukung penuh, lahir batin dari alm. Dr. Pather Neles Tebay.

Karya terbaik mereka (LIPI) buku yang berjudul: Papua Road Map: Negotiating the Past, Improving the Present, and Securing the Future. Buku ini tidak disukai pemerintah Indonesia, terutama TNI. Karena dalam buku ini dikemukakan empat akar pokok persoalan Papua. Buku inilah sumbangan berharga dari Tim Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bagi rakyat Papua.

Mengapa saya menyebut Tim LIPI dalam tulisan ini? Saya berpikir bahwa terbentuknya Jaringan Damai Papua (JDP) merupakan proses perjuangan dan pergumulan dari Tim LIPI dan alm. Dr. Pather Neles Tebay bersama beberapa teman untuk menjembatani dua kelompok yang sedang bertikai selama lima dekade.

Peran kecil saya dalam JDP

Saya mau jelaskan peran kecil saya dalam proses terbentuk JDP. Saya mendukung JDP dengan beberapa cara sesuai kapasitas yang saya miliki.

Waktu awal sosialisasi terbentuk JDP, hampir semua kabupaten menolak dengan keras. Saya ditelepon dari beberapa daerah.

"Pak Yoman, bagaimana menurut pak Yoman tentang sosialisasi JDP? Kami tolak mereka."

Saya bertaya kepada mereka. "Siapa-siapa yang datang sosialisasi JDP di situ?"

Mereka jawab. " Di sini ada Pather Neles Tebay dan ada Markus Haluk dan beberapa orang."

Saya bertanya kepada mereka. "Apakah kamu percaya pak Yoman?"

Jawab mereka kepada saya. "Kami percaya pak Yoman. Kami tidak ragu untuk pak Yoman."

Jawaban saya kepada mereka. "Kalau kamu semua percaya dan tidak ragu kepada pak Yoman, sikap hati kamu itu juga berlaku untuk Pather Neles Tebay dan Markus Haluk. Mereka adalah saya dan saya adalah mereka."

Jawaban mereka. " Ya, sudah jelas untuk kami. Kami siap dukung sosialisasi JDP."

Menjadi Pembicara pada Konferensi Perdamaian Papua pada 5-7 Juli 2011 di Auditorium Uncen Jayapura yang diselenggarakan Jaringan Damai Papua.

Para pembicara pada Konferensi itu, Menkopolhukam, Gubernur Papua, Pangdam XVII Cenderawasih, Kapolda Papua, Uksup Jayapura, Dr. Leo Laba Ladjar, OFM, Dr. Tonny Wanggai, Pdt. Dr. Benny Giay (tidak hadir) dan Dr. Socratez S.Yoman (saya sendiri).

Ada yang menarik dalam seminar yang dihadiri hampir lebih dari 500 orang peserta dari Sorong-Merauke.

Pada saat perwakikan Pangdam XVII Cenderawasih mau sampaikan materi, dia minta kepada seluruh peserta dengan pesan:

"Shalom. Saudara-saudara, kalau saya sebut Papua tiga kali, saudara-saudara jawab Damai juga tiga."

Apa yang terjadi? Ketika perwakilan Pangdam XVII mengucapkan: "Papua dan seluruh perserta balas serentak Merdeka. Papua Merdeka...Papua Merdeka...Papua Merdeka..."

"Saya mendengar suara ini. Saya menyimak suara ini dari hati. Saya menyimpan suara ini di hati. Saya merasakan suara ini dengan mata iman saya. Saya melihat suara ini. Saya merasan getaran suara ini. Suara yang jujur. Suara yang polos. Suara yang murni. Suara yang tidak direkayasa. Suara yang benar. Suara keberanian. Suara yang mewakili penderitaan, tetesan darah dan cucuran air mata dalam sejarah yang panjang di tanah ini."

Ada peristiwa lain yang saya alami. Sebelum saya pergi menjadi pembicara, saya mendapat telepon dari Buchtar Tabuni dan Mako Tabuni. Mereka minta saya tidak boleh hadir dalam konferensi JDP. Mereka pesan kepada saya.

"Pokoknya bapak jangan hadir. Kami akan bubarkan atau kacaukan acara konferensi itu."

Saya sampaikan: "Kamu datang hadir dan dengar materi yang bapak sampaikan." Tetapi mereka tidak puas dengan jawaban saya lewat telepon. Buchtar Tabuni dan Mako Tabuni serta ada salah satu teman datang ke rumah pada pagi hari. Mereka tekan saya. "Kami minta dengan hormat, bapak tidak boleh hadir." Saya bilang mereka: "Itu kegiatan yang baik, saya harap kamu hadir "

Saya datang ke tempat konferensi sesuai jadwal. Saya ada duduk sedang mendengarkan materi dari beberapa pembicara, ada seorang putri bagian dari panitia konferensi berbisik kepada saya.

"Bapak tolong..., cepat keluar. Ada anak-anak, Mako dengan teman-teman sudah mau bikin kacau acara. Bapak tolong...."

Saya keluar dari ruangan dengan nona ini. Saya ada lihat adik Markus Haluk dengan anak-anak sedang beradu argumen mereka. Markus sedang berikan penjelasan.

Saya sampaikan kepada anak-anak ini. "Adik-adik kamu pulang. Apa yang ada di hati kamu dan pikiran kamu itu ada di hati dan pikiran saya."

Sebelum mereka bubar dari tempat itu, dari para pejuangan keadilan, kedamaian dan martabat manusia, serta hak politik, yaitu KNPB pesan kepada saya dan Markus Haluk pada saat itu.

"Bapak, Papua Darurat Militer." Saya sampaikan kepada KNPB. "Saya 100% setuju bahwa Papua Darurat Militer."

Pada saat saya kembali ke rumah, Ibu Melani Higgins, Sekretaris I Bidang Politik Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta telepon saya.

"Selamat sore pak Socratez. Apa kabar? Apakah pak Socratez ikut Konferensi Perdamaian Papua? Apakah pak Socratez mendukung Konferensi dan JDP?"

Saya jawab. " Ibu Melani, saya sedang pulang ke rumah setelah sampaikan materi dalam Konferesi Perdamaian Papua. Saya dukung JDP karena ada tujuan baik untuk rakyat Papua."

Pada sore harinya, Buchtar Tabuni dan Mako Tabuni dengan beberapa teman anggota KNPB datang ke rumah. Saya persilahkan masuk ke rumah.

Buchtar Tabuni langsung sampaikan kepada saya. "Bapak merusak agenda KNPB. Kami tidak bisa bergerak karena bapak sudah ada di sana. Kami tidak mau meludah wajah bapak. Kalau bapak tidak hadir, kami sudah bubarkan 'kacaukan' konferensi itu."

Mako Tabuni sampaikan: "Bapak, memang saya datang terlambat. Saya langsung masuk ke dalam ruangan untuk pegang mike untuk bubarkan konferensi. Tapi, saya lihat bapak ada duduk di dalam. Saya diam-diam balik pulang. Tidak baik kalau injak leher bapak."

Mereka sampaikan: "Kalau ada bapak Benny Giay dan bapak Yoman, kami tidak berani bikin ribut. Kami takut taruh kaki dipundak bapak-bapak."

Peran kecil lain yang saya kerjakan ialah setiap ketemu beberapa kedutaan dan ditanyakan tentang sikap saya terhadap JDP. Saya selalu katakan dengan jujur, saya mendukung JDP.

Jaringan Damai Papua (JDP) telah berbuat banyak dengan memainkan peran penting sebagai mediator. JDP berperan untuk mengantar rakyat Papua dan penguasa Indonesia berdialog damai untuk penyelesaian konflik berdarah terpanjang dalam sejarah.

Baca juga: Posisi ULMWP dan Indonesia Setara di Mata Internasional

JDP melakukan berbagai pertemuan di dalam Negeri dan Luar Negeri untuk mencari format yang tepat, relevan dan dinamis. Bahkan menggalang dukungan akademisi, aktivitis, jurnalis dan penguasa dengan menerbitkan buku dengan judul: 100 Orang Indonesia Angkat Pena Demi Dialog Papua (2013) dan Angkat Pena Demi Dialog Papua (Neles Kabadabi Tebay, 2001-2011).

2. United Liberation Movement for West Papua (ULMWP)

ULMWP lahir secara resmi pada 6 Desember 2014 di Port Villa, Vanuatu. ULMWP menjadi payung politik resmi bangsa West Papua yang mempersatukan WPNCL, NRFPB dan PNWP.

Penyatuan ini secara resmi ditandatangani oleh Dr. Rex Rumakiek dari West Papua National Coalition for Liberation (WPNCL), Edison Waromi dari perwakilan Negara Republik Federal Papua Barat (NRFPB), dan Bucthar Tabuni dari Parlemen Nasional West Papua (PNWP).

Dalam pertemuan ini secara demokratis memilih lima orang pemimpin untuk menjalankan mandat bangsa melalui rumah besar yang bernama ULMWP, yakni, Octovianus Mote sebaga Sekertaris Jenderal, Benny Wenda sebagai Juru Bicara, dan tiga orang anggota, yakni, Jacob Rumbiak, Rex Rumakiek, dan Leonie Tanggahma.

Baca juga:
  1. ULMWP: Sidang Umum PBB Satu-satunya Ruang untuk Dialog tentang West Papua
  2. Dewan Gereja Dunia Dukung Dialog Indonesia dengan ULMWP
Yang hadir menyaksikan terbentuknya lembaga politik resmi bangsa West Papua, yaitu Mantan Perdana Menteri Vanuatu, Barack Sope, Perdana Menteri Vanuatu, Joe Natuman, dan sejumlah tokoh adat masyarakat Vanuatu ikut berpartisipasi dan menyaksikan penandatangan deklarasi Saralana.

Sekarang ULMWP dipimpin oleh Benny Wenda sebagai Ketua, Oktovianus Mote sebagai wakil Ketua, Jurubicara Jacob Rumbiak, dan anggota Rex Rumakiek dan Paula Makabori.

ULMWP lahir dengan dasar, yaitu rakyat dan bangsa West Papua berinisiatif untuk bersatu dalam satu payung sebagai wadah politik. Kedua atas desakan atau permintaan Negara-Negara Anggota MSG, komunitas Internasional, tentu saja permintaan Indonesia supaya rakyat Papua harus satu suara dalam satu wadah resmi.

ULMWP diterima sebagai anggota MSG dengan status Peninjau (Observer) di Salomon Islands pada 2015.

ULMWP didukung resmi Komunike dari Negara-Negara Forum Kepulauan Pasifik (PIF) pada 16 Agustus 2019.

ULMWP juga didukung oleh 79 Negara anggota African, Carabian dan Pasific (ACP) di Nairobi, Republik Kenya pada 9-10 Desember 2019.

ULMWP didukung resmi oleh empat Gereja di Papua, yaitu: GKI, Kingmi, GIDI, Baptis pada 17 Februari 2019 di Kantor Sinode GKI. Empat Gereja ini, kini telah membentuk Dewan Gereja Papua (West Papua Council Church) yang beraviliasi dengan Dewan Gereja Pasifik (PCC).

ULMWP juga didukung resmi oleh Dewan Gereja Pasifik (PCC) dan Dewan Gereja Dunia (WCC) berdasarkan hasil kunjungan Dewan Gereja Dunia (WCC) pada 17-19 Februari 2019 di West Papua.

ULMWP juga didukung oleh para Uskup Negara-Negara Pasific untuk penyelesaian konflik Papua dengan Indonesia melalui dialog damai dan bermartabat.

Kita kembali pada dua pertanyaan kunci tadi.

Apakah JDP dan ULMWP ada persamaan dan perbedaan tujuannya?

Persamaannya: JDP dan ULMWP sama-sama berjuang untuk memikirkan penyelesaian konflik Papua dengan jalan dialog damai antara Indonesia dan rakyat Papua yang dimediasi pihak ketiga yang lebih netral.
Perbedaannya: JDP bukan aktor. JDP hanya sebagai mediator atau fasilitator
Lebih tepat seperti dalam Alkitab: JDP seperti Yohanes Pembaptis yang berseru-seru di padang belantara dan mengatakan luruskanlah Jalan bagi TUHAN. JDP membuat jalan supaya ULMWP melewatinya untuk pertemuan dengan Indonesia atau sebaliknya Indonesia datang berjumpa dengan ULMWP. JDP bukan subyek.

Sementara United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) sebagai aktor utama berdiri kokoh dengan kekuatan dukungan Negara-Negara Merdeka dari Kawasan Pasifik-, Karabia dan Afrika yang merupakan persyaratan utama untuk berbicara di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Apakah JDP dengan ULMWP sama kedudukannya?
Kedudukan JDP dan ULMWP tidak sama
Kedudukan dan posisi JDP tidak punya daya tawar dan alat tekan. Karena JDP berperan sebagai mediator. Jadi, tugas JDP ialah menyampaikan kepada penguasa Indonesia HARUS duduk setara dengan ULMWP dan sebaliknya JDP sampaikan kepada ULMWP untuk berdilog secara damai dan bermartabat untuk penyelesaian persoalan kejahatan kemanusiaan Papua yang sudah berlangsung selama 58 tahun.

Baca juga: Legitimasi dan Pengakuan Terhadap ULMWP

Yang jelas dan pasti: ULMWP punya kedudukan setara dan daya tawar dengan Indonesia. Contoh kecil. Tapi itu sangat berdampak besar, yaitu dalam Forum MSG, pemerintah Indonesia dan ULMWP duduk setara sebagai dua bangsa yang sedang bertikai.

ULMWP mempunyai dukungan dari Negara-Negara Merdeka atau Negara berdaulat dan juga Dewan Gereja Papua, Dewan Gereja Pasifik (PCC), Para Uskup Keuskupan Negara-Negara Pasifik, Dewan Gereja Dunia (WCC).

Tidak menjadi rahasia umum, bahwa doa dan harapan rakyat Papua, rakyat Indonesia dan masyarakat kawasan Pasifik dan komunitas internasional bahwa sudah waktunya penderitaan, tetesan air mata dan cucuran darah rakyat Papua harus diakhiri dengan cara-cara damai, bermartabat dan manusiawi.

INDONESIA dengan ULMWP harus duduk satu meja dimediasi pihak ketiga yang netral di tempat netral. Langkah awal sudah positif yaitu INDONESIA-ULMWP sudah duduk setara di forum MSG. INDONESIA-ULMWP berundinglah dan berbicaralah di rumah MSG untuk win win solution.

Akhir dari artikel ini, saya mau sampaikan kepada para pembaca yang mulia, bahwa tulisan ini tidak bermaksud menggurui para pembaca. Tetapi, saya sampaikan apa yang saya ikuti, tahu, yakani dan mengerti.

Baca juga: Dialog Jakarta-Papua Agenda Menghancurkan ULMWP Dan Dukungan Internasional

Doa dan harapan saya, para pembaca yang mulia dan terhormat dapat memahami dan menerima dari hati Anda artikel singkat ini. Karena saya juga sampaikan kepada Anda semua dari hati saya yang jujur. Sesuatu nilai yang disampaikan dari hati pasti ke hati. Tuhan Yesus memberkati.


Ita Wakhu Purom, Sabtu, 18 April 2020
_________
Penulis: Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua (PGBWP).
Nomor Kontak: 0812-4888-458 (Dr. Socratez S. Yoman, MA)

Posted by: Admin
Copyright ©Dr. Socratez S. Yoman, MA "sumber"
Hubungi kami di E-Mail ✉: [email protected]

Post a comment

 
Top