0

AGEN OF CONTROL Versus AGEN OF OPPORTUNISM DALAM MEMPERJUANGKAN “DAERAH OTONOMI BARU” DI SELURUH TANAH AIR PAPUA BARAT

Sebelum mencoret, saya ingin mengistilahkan arti DOB. DOB itu Bukan Daerah Otonomi Baru Tapi “Daerah Oportunis Baru”. Bila anda bertanya Mengapa ?. jawabannya simple. “Karena DOB tidak berdasarkan keinginan Rakyat Tanah Papua Barat”.

Lanjut…
Hari hari ini kita digencar dengan isu (DOB) Daerah Otonomi Baru di Tanah Papua Barat. Isu ini harus kita Lawan karena Daerah Otonomi Baru ini bukan atas dasar keinginan Rakyat tapi keinginan para pembunuh kehidupan rakyat. Kalau Daerah Otonomi Baru sudah tidak berdasarkan keinginan rakyat maka negeri dan tanah rakyat akan dikuasai dan dimiliki oleh penguasa dan antek - anteknya, maka bagi rakyat Daerah Otonomi Baru yang menjadi agenda populer di tanah air papua barat bukan Daerah Otonomi Baru untuk Rakyat tapi Daerah Oportunis Baru yaitu untuk para “Pembunuh”.


Kaum muda papua barat menkonsumsi isu ini dengan berbagai macam asumsi, gagasan, dan pikiran baik di ranah kelompok maupun pribadi yang terutama pada Pemuda dan Mahasiswa Papua Barat. Bagi aktivis; isu ini dijadikan agenda utama dalam barisan oposisi untuk diskusi, renungan, replay, tapi bagi kawan-kawan yang lain yang tidak saya sebutkan identitasnya itu, isu ini dijadikan agenda urutan akhir dalam agenda rutinitasnya atau bahasa kasarnya “agenda yang tak terpenting dalam dirinya” di atas tanah papua barat. Selain itu pemuda dan mahasiswa yang lain juga melakukan diskusi dan kajian tentang Daerah Otonomi Baru namun kajian dan pikirannya tidak seperti yang dituliskan oleh para filsuf bahwa Pemuda adalah Tulang Punggung Bangsa, dan Mahasiswa adalah Agen Perubahan (artinya hasil diskusi pemuda dan mahasiswa sebagian tidak terdapatkan titik terang bahwa ia akan berada di barisan oposisi), maka telah tersimpul bahwa sekalipun ia tidak menyatakan diri untuk tidak bergabung atau berada dalam Tim Oportunis yang memperjuangkan hadirnya DOB, namun secara abstrak ia merupakan bagian integral dari Tim Oportunis.
Oposisi Menolak DOB Karena; “Bukan Solusi Yang Di Berikan Dan Juga Bukan Keinginan Rakyat Papua Barat. Bagi Rakyat DOB Itu; DAERAH OPORTUNISME BARU”.
Sekalipun Daerah Otonomi Baru itu bukan keinginan Rakyat namun penguasa dan anteknya akan tetap berjuang mati-matian demi menghilangkan rasa haus darinya. Karena seseorang seperti itu rumit untuk menyatakan diri menjadi relawan dan berada di barisan rakyat jelata. Karena ia terdogma dengan harapannya yang sangat terpandu oleh pihak yang akan mendukungnya. (Oportunisme)

(Baca ini: Filep Karma: Pemekaran Hanya Melebarkan Daerah Operasi Militer (DOM))

Dalam pandangan dan fenomena seperti ini Mahasiswa dan Pemuda harus berjejak yaitu berada pada posisinya bahwa benar- benar menjadi Tulang Punggung Bangsa dan benar - benar mejadi Agen Of Control tapi pada faktanya hal itu menjadi cacat identitas Pemuda dan Mahasiswa. Identitas pemuda dan mahasiswa papua dianggap tercacat dikarenakan;
  1. Minimnya diskusi, kajian, pertengkaran argumentasi di forum internal dan eksternal untuk mempertajam pikiran dan analisis khusus di forum-forum mahasiswa dan pemuda.
  2. Hasil survey lapangan menunjukan hampir rata-rata Pemuda dan Mahasiswa Papua mencari popularitas, akseptabilitas dan elektabilitas. Padahal di era modern kini ketiga hal seperti itu di anggap tindakan yang Konyol.
  3. Minimnya kesadaran dalam rekognisi sesama manusia sebagai makhluk sosial
“Bagi kaum intelektual: “Sesungguhnya Idealisme adalah Kukatan yang paling Tinggi untuk Mereformasi keadaan yang Merosot, keadaan yang di Bungkam dan keadaan yang di Jajah”. Jhon Lahu’renz Tabunny
Melihat baik-buruknya Daerah Otonomi Baru adalah tugas dan tanggungjawab pemuda/mahasiswa karena pemuda/mahasiswalah yang memiliki ruang dan waktu yang lebih besar untuk berpikir, merenungkan dan bertindak. Maka tidak salah benar bila mahasiswa/ pemuda mengkaji, membuka ruang dan waktu yang seluasnya untuk diskusi lalu mengaspirasikan kepada publik dan utama kepada pihak yang berwenang untuk menindak lanjuti berdasarkan atas kajian, diskusi dari masalah yang di alami dan di rasakan rakyat secara keseluruhan.

(Baca ini: Dampak Negatif dari Pemekaran Provinsi dan Kabupaten di Papua)

Ketika ikuti saja situsi ini dan ia-iakan serta biarkan Agenda Daerah Otonomi Baru terus diperjuangkan oleh penguasa/petahana/para elit/oknum tertentu tanpa ada reaksi atas isu dari kalangan intelektual maka kemungkinan besar dogma oportunisme terus merajah lela di pikiran rakyat bahkan dalam ideologi oposisi akan meredup serta dimanfaatkan atau diuntungkan demi masa depannya. Akibat ketidakadaan reaksi intelektualis maka Kerja mereka akan terus membawa kehancuran tanpa ada kepedulian, serasa, setara, sepaham dalam kehidupan manusia yang adil dan makmur. Demikian
DOB Itu "Daerah Oportunis Baru", bukan Daerah Otonomi Baru!
Jhon Lhau'renz Tabunny (doc. pribadi)
Oleh: Jhon Lhau’renz Tabunny)*

Di akhir coretan ini, saya mengudang seluruh Mahasiswa dan Pemuda Papua untuk mengambil bagian dalam Aksi Penolakan DOB (Daerah Otonomi Baru) Se-Tanah Papua Barat, Pada Selasa, 16 Juli 2019. Pukul. 08.00-15.00 WPB. Di Kantor DPRP Provinsi Papua

“Shalom - Terima Kasih”
_________
Penulis adalah Founder; Komunitas Wone)*.


Posted by: Admin
Copyright ©tabloid-wani.com "sumber"
Hubungi kami di E-Mail ✉: [email protected]

Post a Comment

 
Top