0
Warga Ketakutan Pasca Penculikan Seorang Nelayan oleh TNI di Biak
Simen Moman (52) foto (sebelah kanan kaos putih), nelayan asal kampung Karawi Kabupaten Kepulauan Yapen yang diculik oleh Militer Indonesia berseragam loreng di pasar Tiptop, Kota Biak, pada 30 Mei 2019. Simen diculik ketika hendak menjual ikan hasil tangkapannya.
BIAK -- Simen Momam diculik kemudian diinterogasi oleh militer Tentara Nasinoal Indonesia (TNI) pada tanggal 30 Mei 2019 di pasar Tiptop, Biak.

Beberapa waktu sebelumnya, Komite Aksi ULMWP telah dideklarasi di Yapen, sehingga Ia [Simen] diculik dan interogasi terkait adanya deklarasi tersebut.

Warga setempat telah melaporkan via Sonamappa kepada tabloid-wani.com bahwa, pasca penculikan itu, kini Bapak Simen Moman sedang dalam kondisi trauma, sehingga Dia tidak lagi melaut.

Operasi teror oleh militer di wilayah tersebut semakin masif dilakukan, sehingga selain Simen, masyarakat kampung Karawi dan sekitarnya pun sedang dalam ketakutan untuk beraktivitas bebas seperti sebelumnya.

Herman Erari, aktivis WPNA yang kini sedang melakukan pendampingan non hukum terhadap Bapak Simen Moman mengatakan, bahwa untuk mementara waktu, Masyarakat kampung Karawi memilih untuk berdiam diri di rumah mereka masing-masing.

Baca ini: Cari Aktivis ULMWP, Militer Indonesia Culik Seorang Nelayan di Yapen

Lanjut Herman mengatakan, aparat [militer TNI/Polri] sedang menggunakan isu ganja untuk melegalkan aksi-aksi teror yang dilakukan oleh mereka [militer TNI/Polri].

"Menurut aparat, di Yapen Utara ada kebun ganja puluhan hektar, dan kebun ganja itu yang mereka sedang cari, bukan masyarakat," kata Herman meniru kata TNI/Polri.

Menurut Herman, isu ganja adalah tipuan belaka. Hal itu ditegaskan aktivis WPNA ini karena masyarakat di Yapen belum pernah melihat ganja disana, sehingga dapat dipastikan itu hanya alasan legitimasi oleh mereka melakukan aksi teror terhadap masyarakat setempat.


Posted by: R.w
Copyright ©Media Sonamappa "sumber"
Hubungi kami di E-Mail ✉: [email protected]

Post a Comment

 
Top