0
Nabire, Ranking 1 Penderita HIV/AIDS
dr.Aloysius Giyai,M.Kes, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua.
Jayapura – Human Immunodeficiency Virus, Acquired Immuno Deficiency Syndrome(HIV/AIDS) masih menjadi masalah kesehatan yang serius di Indonesia, termasuk di Papua. Sejak ditemukan pada 1992 lalu, hingga saat ini telah tersebar di seluruh kabupaten, di mana dari data yang dikumpulkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Papua hingga triwulan I ini (31 Maret 2019) sebagai data komulatif, HIV sebanyak 15.935 kasus dan AIDS sebanyak 24.870 kasus dan jumlah kasus HIV/AIDS yang dilaporkan adalah 40.805 Kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dr. Aloysius Giyai,M.Kes mengungkapkan, data kumulatif temuan kasus HIV/AIDS tersebut memang terlihat cukup besar, akan tetapi jika dilihat dari temuan kasus yang dilaporkan oleh setiap kabupaten/kota melalui Surveilans AIDS, sejak 5 tahun terakhir ini sangat bervariasi.

Di mana 2014 (4.453) kasus, 2015 (4.251 kasus), 2016 (3.773 kasus), 2017 (3.724 kasus), 2018 (3.309 kasus) dan masih ada beberapa kabupaten yang belum melaporkan kasus secara lengkap setiap tahunnya. Dari seluruh temuan kasus HIV/AIDS yang dilaporkan tersebut, terbanyak (ranking 1) berada di Kabupaten Nabire (7.436 kasus), Kota Jayapura (6.765 kasus), Jayawijaya (6.242 Kasus).

“Berdasarkan target temuan kasus dalam Renstra Dinas Kesehatan jumlah kasus HIV/AIDS yang harus ditemukan sampai 2018 adalah sebanyak 25.000 kasus, namun hingga 2018 lalu kasus yang ditemukan telah melebihi target, yaitu 39.978 kasus,” papar Aloysius di Jayapura, Kamis (9/5).

Dari beberapa variabel rekapitulasi data komulatih kasus HIV/AIDS dalam 5 tahun terakhir tersebut juga, jika diurutkan berdasarkan jenis kelamin, maka kasus terbanyak terjadi pada perempuan dibanding laki-laki, dan jika dikelompokkan berdasarkan umur, kasus terbanyak adalah pada umur 25-49 tahun, namun diakui pula pada kelompok umur 15- 19 tahun tersebut juga sedikit ada penurunan.

“Jika kita melihat lagi berdasarkan faktor risiko penularan terbanyaknya adalah melalui hubungan seks bebas (berganti-ganti pasangan dan tidak memakai kondom/heteroseksual), tetapi penularan dari ibu ke anak kasus HIV AIDS sedikit meningkat. Dan berdasarkan suku bangsa terbanyak penderitanya adalah Orang Asli Papua (OAP) dibandingkan Non Papua,” kata Aloysius.

Aloysius juga mengakui, banyak kendala yang dihadapi dalam penemuan kasus HIV/AIDS tersebut, di mana penemuan kasus tersebut juga sangat bervariasi antara satu kabupaten dengan kabupaten lainnya serta kota yang ada di Tanah Papua ini. Yang menjadi salah satu kendalanya adalah belum merata atau belum semua layanan kesehatan yang ada di setiap kabupaten/kota itu dapat memberikan layanan tes HIV/AIDS dan pengobatan Antiretroviral (ARV). Hal ini dikarenakan tidak terpenuhinya jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) kesehatan yang memadahi. Baik itu dari sisi dokter, perawat, farmasi, analis maupun petugas pencatatan dan pelaporan.

“Berdasarkan data laporan bulanan data layanan medis penderita HIV/AIDS Dinas Kesehatan Provinsi Papua hingga Maret 2019, jumlah ODHA yang masuk perawatan 33.955 orang. Jumlah ODHA yang pernah ARV 21.788 orang, jumlah ODHA ON ART (Rutin menerima ARV) 6.534 orang, jumlah ODHA yang Loss to Follow Up 7.597 orang, meninggal 2.956 orang, STOP 168 orang,” jelasnya.

Melihat angka cakupan ODHA yang menerima ARV secara rutin (On ARV) dan tingginya Loss To Follow Up menjadi permasalahan di Provinsi Papua. Adapun beberapa faktor penyebabnya adalah masih tingginya stigma dan diskriminasi terhadap ODHA sehingga ODHA malu datang ke layanan, jarak yang jauh untuk ke layanan ARV, biaya transportasi yang tidak memadai untuk ODHA datang ke layayan ARV, rendahnya keterlibatan ODHA untuk keberhasilan pengobatan dan rendahnya keterlibatan keluarga dalam proses perawatan.

“Untuk menjawab permasalahan ini Dinas Kesehatan Provinsi Papua dalam tahun rencana kerja ke depan akan memperluas layanan ARV sampai ke puskesmas, memperkuat petugas kesehatan dalam konseling kepatuhan minum ARV, mendorong keterlibatan kader kesehatan dalam pendampingan ODH, memperkuat kelompok dukungan sebaya dalam pendampingan, meningkatkan peran petugas kesehatan dalam kunjungan rumah ODHA, meningkatkan upaya perawatan berbasis rumah dan upaya perawatan berbasis masyarakat,” pungkasnya.


Copyright ©Wone PAPUA "sumber"
Hubungi kami di E-Mail ✉: [email protected]

Post a Comment

 
Top