Kedua orang tua Sekton Wandikbo, Marthasilla Wandik dan Pendeta Dorman Wandikbo – Dok. Pribadi.
Jayapura -- Senin (27/1/2019), sekitar jam lima sore, kami menemui Pendeta Dorman Wandikbo di rumahnya di kompleks Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKIN), Sentani , Jayapura. Saat itu, Pendeta Dorman sedang bersiap untuk hadir dalam perayaan ulang tahun STAKIN. Janji wawancara yang telah kami sepakati sebelumnya membuat Pendeta Dorman mengurungkan niatnya untuk melanjutkan rencananya hingga satu jam berikutnya.

Setelah kami dipersilahkan masuk ke rumah Presiden Gereja Injili di Indonesia (GIDI) ini, ia memanggil istrinya, Marthasilla Wandik untuk bersama menjalani wawancara tentang Sekton Wandikbo, anak laki-laki mereka yang baru saja menerima penghargaan sebagai linebacker terbaik dalam kompetisi American Football tingkat SMA di Amerika Serikat.

Seperti rumah para penginjil umumnya, rumah keluarga Pendeta Dorman cukup sederhana dengan ruang tamu luas dan berlantai batu. Halaman rumahnya cukup luas juga, ditanami buah-buahan seperti pisang, rambutan dan mangga.

Adik-adik Sekton tampak berkumpul di ruang tengah rumah mereka.

Tak lama kemudian, Marthasilla, ibu Sekton muncul dari ruang tengah lalu duduk disamping suaminya.

(Lihat ini: Sekton Wandikbo, Putra Papua Pencetak Sejarah Sepak Bola AS)

Marthasilla yang mengawali cerita tentang Sekton. Perempuan asal pegunungan tengah Papua ini mengaku sempat khawatir saat tahu anaknya menjadi atlet American Football, olahraga yang terbilang sangat keras itu. Ia sendiri mengaku tidak pernah tahu apa itu American Football hingga ia menontonnya sendiri dari tautan-tautan youtube yang dikirimkan Sekton.

“Saya tidak tahu olahraga apa itu. Tapi setelah menontonnya, saya khawatir sekali. Karena olahraga itu keras sekali. Tapi sekarang saya sudah bisa menerima pilihan anak saya,” ungkapnya.

Kemandirian Sekton sejak kecil membantu ibunya untuk memahami pilihan olahraga keras itu. Sekton, sudah berpisah dari orang tuanya sejak duduk di kelas tiga SD Yapar Alom. Ia tinggal di Asrama Inisiasi, asrama milik gereja GIDI saat naik kelas tiga meskipun orang tuanya tinggal di kota yang sama, Wamena.
Sekton Wandikbo
saat masih duduk di 
bangku SMP – Dok. pribadi.
“Kami ingin dia mandiri. Awalnya memang dia menolak, tapi lama kelamaan dia mulai terbiasa hidup terpisah dari kami,” kata Pendeta Wandikbo melanjutkan.

Pendeta Wandikbo dan istrinya mengatakan sejak kecil Sekton memang gemar berolahraga, terutama sepakbola dan basket. Kadang-kadang dia berenang di Sungai Baliem bersama kawan-kawannya sambil mencari udang di sungai itu, seperti kebanyakan anak-anak di Wamena. Di waktu senggang, dia suka berlari naik turun bukit dan lembah di kota Wamena.

“Tubuhnya memang sudah tinggi dan besar sejak kecil. Kelas lima SD dia sudah bisa mengendarai mobil,” jelas Pendeta Wandikbo.

Tak jarang, Sekton menemani bapaknya melayani umat Kristen di sekitar pegunungan Papua. Jika perjalanan bisa ditempuh dengan mobil, Sektonlah yang bertugas mengendarai mobil.

Meskipun demikian, Pendeta Wandikbo mengaku ia tidak pernah mengatakan kepada Sekton untuk menjadi pendeta seperti dirinya.

“Itu tergantung Sekton sendiri. Jika kami berdua pergi melayani, dalam perjalanan saya hanya berbicara pada dia sebagaimana orang tua pada anaknya. Kami tidak bicara tentang pekerjaan saya,” ujar Pendeta Wandikbo.

Walaupun aktifitas olahraganya cukup tinggi, prestasi Sekton di sekolah cukup baik. Saat Pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah membuka program kelas unggulan, Sekton terjaring oleh program itu. Setamat SD, ia mulai ikut dalam program tersebut bersama beberapa siswa lainnya. Siswa-siswa ini ditempatkan di SD Negeri Ilugwa, sekolah yang letaknya di salah satu kampung di distrik yang bernama sama di Kabupaten Mamberamo Tengah.

Meskipun mereka ditempatkan di SD, siswa-siswa ini menerima pelajaran tingkat SMP.

Selama di Ilugwa, Sekton terus menempa fisiknya dengan berlari naik turun bukit ditengah dinginnya iklim kampung Ilugwa.

Sekton tidak menamatkan SMPnya di Ilugwa. Ia harus pindah ke Sentani karena orang tuanya mendapatkan tugas baru sebagai Presiden GIDI. Ia melanjutkan kelas tiga SMPnya di SMP Kristen Baik di Hawaii Sentani.
“Sekton berangkat ke Amerika itu saat umurnya 16 tahun. Sendirian. Ibunya tidak bisa makan selama 3 hari karena selama hari-hari itu komunikasi dengan Sekton terputus,” ungkap Pendeta Wandikbo.
“Di Sentani, setiap sore hingga malam Sekton bermain futsal bersama kawan-kawannya. Kalau sore mereka main basket dan malam dilanjutkan main futsal,” kata Marthasilla sambil menambahkan biasanya Sekton pulang bermain futsal sekitar jam 10 – 11 malam.

Aktifitas Sekton ini sempat membuat Marthasilla khawatir karena bisa mempengaruhi nilai Sekton di sekolah selain karena sering pulang malam hari. Namun Sekton bisa meyakinkan dirinya.

“Dia selalu bilang, saya harus menjaga tubuh saya agar tetap atletis karena ingin menjadi pemain bola atau basket,” lanjut Marthasilla.

Jalan Sekton ke luar negeri terbuka setelah dia mengikuti program beasiswa yang dibuka oleh Komisi Beasiswa Sekolah (KBS) Gereja GIDI. Dia terpilih sebagai salah satu siswa yang bisa melanjutkan sekolahnya di Palau, sebuah negara kecil di kawasan Pasifik.

Tahun pertamanya di SMA Palau itu, ia menjadi juara umum di sekolahnya. Prestasinya ini mengundang perhatian Menteri Pendidikan dan Presiden Palau sehingga keduanya mengundang orang tua Sekton datang ke Palau untuk menerima penghargaan atas prestasi Sekton. Kedua pejabat tinggi Palau ini lalu merekomendasikan Sekton untuk pindah ke Amerika Serikat (AS) karena prestasinya itu.

“Saya dan ibunya hadir menerima penghargaan itu, bersama perwakilan pemerintah Provinsi Papua. Perwakilan pemerintah provinsi Papua ini yang menindaklanjuti rekomendasi pemerintah Palau itu untuk memindahkan Sekton ke AS,” ujar Pendeta Wandikbo.

Namun sebelum pindah sekolah ke AS, Sekton harus mengikuti kursus bahasa inggris terlebih dulu di Makassar selam enam bulan. Selain itu ia harus menjalani serangkaian test di Kedutaan Besar AS sebagai persyaratan sekolah di negara tersebut bersama beberapa calon siswa lainnya. Hanya Sekton yang berhasil lulus dalam test di Kedutaan AS. Ada empat kawannya yang lain gagal dan pulang ke Papua.

“Sekton berangkat ke Amerika itu saat umurnya 16 tahun. Sendirian. Ibunya tidak bisa makan selama 3 hari karena selama hari-hari itu komunikasi dengan Sekton terputus,” ungkap Pendeta Wandikbo.

Pendeta Wandikbo menambahkan istrinya sempat tidak mengijinkan Sekton untuk berangkat karena tidak ada yang menemani perjalanan Sekton ke AS. Kekerasan tekad Sekton untuk sekolah di luar negeri dan menjadi pendeta lah yang membuat ibunya merelakan Sekton berangkat sendirian.

(Baca ini: Wawancara: Sekton Wandikbo, Remaja Papua yang Taklukan American Football)

Basket adalah olahraga pertama yang diikuti Sekton di SMA Foxcroft, tempat dia melanjutkan sekolahnya di AS. Tak lama bermain basket, ia pindah minat ke olahraga renang. Di sekolahnya ini, siswa diminta untuk mengikuti satu dari beberapa program olahraga sekolah. Sayangnya, sepak bola yang sangat diminati Sekton tidak ada dalam daftar program olahraga sekolah.

Saat senggang, kawan-kawan Sekton di Foxcroft sering bercerita tentang olahraga America Football yang menjadi olahraga paling favorit di AS. Awalnya dia tidak begitu paham tentang olahraga ini. Hingga kawan-kawannya mengajak dia untuk mencoba olahraga keras ini. Setelah mencobanya, Sekton tertarik untuk mengikuti program American Football ini dan mulailah pemuda asal Ilugwa ini memulai sejarahnya sebagai seorang atlet American Football.

Sejak saat itu pula, Sekton mulai mengirimkan foto-foto dan rekaman video pertandingan American Football yang diikutinya kepada ibu dan bapaknya. Sayangnya, karena olahraga ini tidak begitu dikenal di Indonesia dan Papua, kedua orang tua Sekton pun tidak begitu tertarik membahasnya bersama Sekton.

“Kami minta maaf pada Sekton karena tidak begitu peduli pada awal dia kasih tahu kami soal olahraga itu. Karena kami hanya tahu dia itu sekolah di Amerika sana dan kami juga tidak tahu olahraga apa itu,” ujar Pendeta Wandikbo.

Saat pulang liburan tahun lalu, Sekton pun tak banyak bercerita tentang aktifitas American Footballnya. Walaupun ia membawa contoh bola yang digunakan dalam American Football untuk ditunjukkan pada ibu, bapak dan adik-adiknya, ia merasa sulit menjelaskan tentang olahraga yang digelutinya itu.

“Dia bilang mau cerita juga percuma karena olahraga itu tidak ada di Papua,” ujar Marthasilla.

Selama berlibur di Papua, Sekton tinggal di kampung halamannya, Ilugwa, bersama kedua orang tuanya dan tiga adiknya. Setiap hari dia sudah keluar rumah jam empat pagi untuk berlari sejauh 5-7 kilometer melintasi bukit dan lembah dalam cuaca yang sangat dingin. Pola makannya juga berubah. Ia tidak mengkonsumsi makanan berlemak. Sementara di kampungnya yang iklimnya sangat dingin, makanan berlemak selalu dikonsumsi hampir setiap hari.
Sekton Wandikbo di Mata Orang Tuanya
Infografis by Jubi.
“Kita sempat pusing juga karena aturan makan yang dia buat itu. Tapi Sekton bilang dia tidak boleh makan sembarangan, terutama makanan berlemak, karena harus menjaga tubuhnya tetap kuat dan tidak bertambah berat,” terang Marthasilla.

Setelah Sekton kembali ke AS, taka da lagi pembahasan tentang american football di rumah Pendeta Wandikbo. Hingga suatu saat Pendeta Wandikbo dan istrinya menghadiri sebuah seminar rohani di Kampung Wolo, Wamena, keduanya terkejut karena seorang dosen yang menyampaikan materi dalam seminar tersebut menyebutkan nama Sekton sebagai pemuda Papua yang meraih prestasi sebagai seorang atlet di AS.

“Itu tanggal 30 Desember. Dosen itu bilang kita harus mencontoh dan berterimakasih kepada Sekton Wandikbo,” ungkap Pendeta Wandikbo.

Keduanya terkejut karena tidak tahu apa maksud dosen tersebut menyebutkan nama anak mereka. Setelah dosen bernama Martin itu selesai memberikan materi, Pendeta Wandikbo dan istrinya menemui dosen itu dan bertanya.

(Simak ini: Pdt. Dorman Wandikbo Terpilih Sebagai Presiden GIDI Periode 2018-2023)

Martin inilah yang memberitahu Pendeta Wandikbo dan istrinya kalau Sekton meraih prestasi sebagai orang Asia pertama yang diberikan penghargaan linebacker terbaik dalam kompetisi american football SMA di AS.

“Kami sendiri tidak tahu itu karena selama hampir satu bulan kami tinggal di Wolo dan tidak mengikuti perkembangan informasi karena di sana tidak ada sinyal HP atau internet,” jelas Pendeta Wandikbo.

Memang Sekton sudah bercerita kepada ibunya jika dalam pertandingan terakhir yang diikutinya, dia menjadi pencetak poin penting dalam pertandingan itu sehingga mendapatkan apresiasi luar biasa dari kawan dan pelatihnya. Hanya saja, Sekton tidak memberitahu tentang penghargaan yang didapatnya itu.

Baik pendeta Wandikbo maupun istrinya memang berkeinginan Sekton tetap melanjutkan sekolahnya hingga kuliah dan meraih cita-citanya sebagai pendeta. Tapi keduanya menyerahkan keputusan masa depan Sekton pada diri Sekton sendiri. Keduanya sangat memahami bahwa kondisi atlet di AS berbeda dengan di Indonesia. Sekton bisa menjadi atlet besar dengan bakat yang dimilikinya tanpa melupakan cita-citanya menjadi pendeta.

“Dia harus memilih jalannya sendiri. Keputusan ada pada dirinya,” kata Pendeta Wandikbo.

“Saya bilang pada Sekton, kalau ada kemungkinan kuliah sambil terus bermain American Football, ambil peluang itu karena dia punya bakat ada disitu,” ujar Marthasilla. (*)

(Simak juga: Wabup Mamteng Laporkan Presiden GIDI ke Polda)


Copyright ©Jubi "sumber"
Hubungi kami di E-Mail ✉: [email protected]
 
Top