Cerita dari Nduga: Mama Selfina Bersalin Sendirian, Lalu Meninggal
Dua ibu dan anak-anak mereka sedang beristirahat sejenak dalam perjalanan mengungsi. Mereka berhenti untuk menyusui dan memberi makan anak-anaknya.
Jayapura -- Inambo Tabuni, 16 tahun baru tiba di Wamena pada 9 Januari 2019 dari dari Distrik Yal ke Mbua. Ia mengisahkan kehidupan di pengungsian.

"Aparat masuk dengan pesawat Heli, jatuhkan bom ke kampung, Warga ke kebun jadi langsung lari diri ke hutan. Banyak orang tua terpisah dari anak-anaknya. Mereka yang ada sama-sama bersyukur bisa melarikan diri bersama,"ungkap dia mengisahkan kejadian pertengahan Desember 2018 itu.

Warga yang lari bertahan hidup di tenda-tenda darurat dan gua-gua lubang batu di hutan. Makan seadanya dengan usaha yang sulit.

Para lelaki berjuang mencapai kebun dengan menempuh belasan kilometer. Mereka mencari petatas dan keladi ke kebun di malam hari.

" Dua tiga hari tahan dengan makanan yang ada. Habis, laki-laki yang turun gali di kebun dan kembali di malam hari,"ungkap dia.

Katanya, para pengungsi ini terpencar dalam kelompok-kelompok kecil hingga rombongan besar.

"Paling sedikit itu 10 orang ke atas,"katanya.

Ketika tiba di Mbua dari Dal, ada seorang ibu bernama Selfina Lokbere, 32 tahun. Dia baru saja kembali dari penggungsian. Lokbere dalam keadaan hamil.

(Baca Ini: Gereja Kingmi Papua Menolak Wilayah Nduga Dijadikan Daerah Operasi Militer TNI-Polri vs TPN-PB OPM)

Pekan lalu, Ibu Lokbere melakukan persalinan. Persalinannya tidak berjalan normal. Ibu dan anak meninggal dunia.

Lanjutnya, isteri dari Yakerena Umangge itu diduga melahirkan anak kembar. Anak pertama berhasil lahir normal namun anak kedua sulit.

"Anak kedua tidak keluar jadi ibu tarik sendiri dengan tangan. Anak dan ibu meninggal,"ungkap dia kepada Jubi, Rabu (9/01/2019)

Inambo Tabuni paham menjadi penggungsi memang menderita.

"Seolah kita hidup di tempat orang lain. Kita mau hidup aman di kampung kami,"katanya lewat sambungan telepon kepada Jubi.

Elianus Tabuni, anggota tim kesehatan provinsi Papua yang berada di distrik Mbua, Kabupaten Nduga membenarkan kejadian yang berlangsung pada 2 Januari 2019 itu.

"Ibu itu baru pulang dari hutan dan bersalin. Anaknya satu saja meninggal sama-sama saat bersalin,"ungkapnya kepada Jubi Rabu (9/01/2019).

Almarhum dengan anaknya sudah di kebumikan warga jemaat Gereja Imanuel Mbua.

Tim medis telah cek semua keluarga almarhumah. Selfina Lokbere diketahui punya 6 anak yang masih hidup.

Mereka adalah Esok Umangge 7 tahun, Londice Umangge 8 tahun, Ason Umangge 9 tahun, Jemison Umangge 3 tahun; Rinthi dan Rentha 2, 6 tahun (kembar) dan bayi yang meninggal pada saat melahirkan.

Menurut keterangan warga, Lokbere meninggal karena tidak makan dan minum selama masa pengungsian.

(Baca Ini: ULMWP : TPN-PB dan Aparat Keamanan Indonesia Tak Boleh Korbankan Warga Sipi)

Alasan lainnya, Selfina meninggal lantaran sering bersalin.

"Bisa karena banyak bersalin, termasuk anak kembar,"ujar Tabuni.

Untuk anak kembar almarhumah, Rinthi dan Rentha diasuh oleh Gelipa Tabuni (Keluarga dari Ibu almarhumah).

"Mereka memang baru pulang dari hutan dan memang membutuhkan perhatian,"lanjut dia.

Tim medis sudah memberi perhatian ke dua anak ini. Termasuk bimbingan psikologis kepada anak-anak yang tua. Karena kondisinya memang menurun akibat trauma dan kekurangan makan.

Alfonsa Wayap, sekretaris Solidaritas Pemuda Gereja yang terdiri Gereja Katolik, KIGMI, GIDI, Babtis dan GKI menambahkan sebelumnya ada juga tiga anak meninggal kekurangan gizi.

Baca juga terkait lainnya: 
  1. Neles Tebay : Perlu Gencatan Senjata Antara TNI-POLRI dan TPN
  2. Simion Surabut: Perundingan Bagi West Papua atau Indonesia?
Ketiganya meninggal di Distrik Yal atas nama Ubugina Unue, 2 tahun, Bugun Unue 1 tahun dan Raina Kogoya, 5 tahun.

Menurutnya, warga yang mengungsi juga mengatakan ada 10 ibu hamil berada di tempat pengungsian.

"Ada yang sudah bersalin dan menantikan waktu bersalin,"ungkap dia.(*)


Copyright ©Tabloid JUBI  "sumber"
Hubungi kami di E-Mail 📧: [email protected]
 
Top