Pasien Tumor Hati Butuh Perhatian Lebih
Pasien Tumor Hati, Yheovani (10) terbaring dengan kondisi menahan sakit saat menjalani perawatan di RS Dok II Jayapura, Jumat (14/9) kemarin. Dari kondisi terakhir dipastikan pihak pasien dan keluarga membutuhkan uluran tangan dari warga.
Jayapura -- Wajah kesehatan di Papua khususnya daerah pedalaman nyata harus disentuh dan diseriusi. Selesai kasus pasien mungil, Puti Hatil asal Korowai, lalu pasien Hydrocepalus, Yeheskiel termasuk pasien infeksi mata, Maxi, kini muncul pasien lain dengan kondisi yang tak kalah memprihatinkan.

Seorang pasien asal Kabupaten Asmat bernama Theovani kini dirawat di RS Dok II Jayapura. Pasien perempuan berusia 10 tahun ini mengalami tumor hati yang membuat bagian perutnya membesar. Jika sepintas dilihat kondisinya seperti anak busung lapar namun ini perutnya jauh lebih besar. Tak hanya itu kedua kakinya juga mulai terlihat bengkak sehingga setiap harinya ia harus duduk di kursi roda. Theovani terlihat tersiksa dengan kondisi penyakitnya karena sesekali ia harus mengerang kesakitan dan saat itu juga ia ditenangkan kedua orang tuanya.

“Adik Theovani ini sudah mulai dirawat sejak 3 Agustus lalu, keluhannya adalah tumor di hati dan kini masih dirawat di RS Dok II,” kata Gunawan, salah satu pekerja sosial Kota Jayapura, Jumat (14/9) kemarin. Pria yang suka mengawal pasien dengan penyakit tertentu ini menjelaskan bahwa sejak tanggal 3 Agustus tersebut anak dari pak Amatus ini masih menunggu penanganan yang intensif untuk tumornya. Kedua orang tuanya juga hanya bisa pasrah dengan apa yang sedang terjadi.

“Jadi kami kenal karena sering menjenguk pasien Hydrochepalus, Yeheskiel dan ia ternyata satu ruangan dengan Yeheskiel. Kemudian ia bertanya kepada orang tua Yeheskiel hingga kami bertemu dan ngobrol,” cerita Gun soal awal bertemu. Dikatakan dari komunikasinya dengan orang tua pasien dijelaskan bahwa kedua orang tuanya yang mendampingi sangat berharap ada penanganan segera mengingat setiap hari ia hanya melihat sang anak mengerang menahan sakit. Jikapun tak bisa ditangani di Papua sebaiknya dirujuk.

Pasien tumor hati ini kata Gunawan pernah dilakukan tindakan medis pada tahun 2009 lalu namun kemungkinan tak tuntas dan kini membesar. Pihak dokter juga telah mengambil sample jaringan sel tumor namun hingga kini pihak keluarga masih menunggu progresnya seperti apa. “Semoga tidak menunggu sesuatu yang tidak pasti,” sindir Gunawan. “Betul pasien ini menggunakan KPS tapi penanganannya ini yang harus lebih diseriusi. Kasihan kalau berlama-lama tanpa progres yang baik,” katanya.

Baca juga:
  1. Pesta Nikah Malapetaka, 19 Orang Keracunan Makanan
  2. Awas! Kasus HIV/AIDS Meningkat Drastis di Provinsi Papua
Tak hanya itu yang membuat Gunawan kaget adalah selama masa perawatan di RS Dok II ternyata ibu dari Theovani harus melahirkan dan kini bayinya juga dirawat di Dok II. “Ini yang kami kaget, ibunya juga melahirkan tapi bayinya hanya ditangani biasa-biasa saja. Bayinya ikut nginap di bangsal dan kami pikir ini rentan terjangkit penyakit,” katanya. Alhasil setelah dikoordinasikan menurut Gunawan rencananya pasien bayi dan ibunya ini akan ditampung di rumah singgah. “Kami cuma khawatir bayinya ini terpapar virus sebab sejak Minggu kemarin sang bayi ini tidur di bangsal,” jelasnya.

Baca ini:
  1. Warga Kampung Muara Nawa Belum Tersentuh Layanan Pendidikan dan Kesehatan
  2. Kasus Baru HIV-AIDS di Papua Mencapai 2.003 Kasus
Disinggung tentang apa yang dibutuhkan pasien dan pihak keluarga, menurut Gunawan saat ini kemungkinan yang dibutuhkan adalah tempat tinggal seperti rumah singgah yang layak untuk bayi. Selain itu kasur dan biaya hidup selama di Jayapura. “Kan KPS tidak tanggung biaya hidup jadi kami pikir itu juga yang mereka butuhkan,” pungkasnya.


Copyright ©Cepos "sumber"
Hubungi kami di E-Mail: [email protected]
 
Top