Ini kondisi Ratusan Anak Jalanan di Wamena

Share Story

Ini kondisi Ratusan Anak Jalanan di Wamena
Salah satu anak-anak yang sedang menghirup lem fox di Pasar Jibama, Jayawijaya – Foto: Islami.

Wamena – Anak jalanan di Wamena mencapai 600 orang, data itu berdasarkan hitungan Dinas Sosial Kabupaten Jayawiyaja tahun 2016. Mereka terlantar dan mengais rejeki di jalanan dengan menutup jok motor atau kaca mobil, membantu mengangkat belanjaan orang di pasar, tak sedikit ada yang mengemis.

Menteri Pemberdayaan Perempuan danperlindungan Anak Republik Indonesia, Yohana Yambise, saat kunjungan kerja ke Wamena beberapa waktu lalu mengaku prihatin dan meminta pemerintah Kabupaten Jayawijaya mengatasi banyaknya anak yang hidup di jalanan itu.

“Kami menyampaikan kepada pemerintah daerah, memperhatikan anak-anak itu karena sudah merupakan urusan wajib daerah non operasional memperhatikan perempuan dan anak,” kata Yohana.

Yohana mengaku sudah menerima informasi tentang sejumlah anak yang gemar menghirup lem aibon di Jayawijaya, sehingga ia akan terus berkoordinasi dengan pemkab untuk menangani isu kritis tersebut.

“Kami tetap berkoordinasi dengan kementerian pendidikan dan sosial untuk melihat anak-anak seperti ini,” kata Yohana menambahkan.

Sebagai daerah yang dipersiapkan menjadi kabupaten layak anak, menurut dia, Jayawijaya harus mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan pemenuhan hak anak, misalnya mendapat pendidikan yang layak.

“Termasuk pemenuhan hak anak, yang mana anak-anak ini harus bersekolah, bermain, berkreasi. Setiap anak juga harus mempunyai akta kelahiran dan lain-lain,” katanya

Asisten I Sekda Jayawijaya, Tinggal Wusono mengaku, pemerintah setempat sejauh ini telah melakukan sejumlah langkah-langkah penanganan maraknya “anak jalanan” dan “anak aibon” di Jayawijaya.

Mulai dari minuman beralkohol sudah dikendalikan dengan perda, terkait dengan peredaran lem yang sebenarnya sudah dipersempit. “Namun hak jual dimana dinas perindag setempat telah mempersempit ruang gerak itu namun memang masih ada kebocoran atau kecolongan,” kata Tinggal.

Ia juga mengakui belum pernag komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah daerah di kabupaten pemekaran, karena anak-anak yang ada di Wamena bukan hanya dari Jayawijaya.

“Kalau komunikasi internal dengan kabupaten pemekaran kami memang belum lakukan, tetapi secara internal pemerintah daerah sebenarnya sudah ada beberapa upaya,” katanya. (*)

Copyright ©Tabloid JUBI “sumber”
Hubungi kami di E-Mail: tabloid.wani@gmail.com

Tags

Share Article

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Related Posts

This is articles having same tags as the current post.