7
Saksi PEPERA, Mama Meryl Latuheru Betay: Ikut Saja yang Dorang Bilang
Meryl Latuheru Betay sedang hamil menjelang berlangsungnya Pepera 1969 di Manokwari. Foto: (ist)
Oleh I Ngurah Suryawan

Mama Meryl Latuheru Betay mengisahkan, saat berada di Gedung Pepera, dimulailah penyekapan tersebut di salah satu ruangan besar. “Saya dibawa di satu ruangan besar dan kitong (kita) disuruh duduk sendiri-sendiri. Nanti akan ada bapak-bapak yang datang katanya,” kisah Mama Meryl. Dan benar saja, tidak beberapa lama, ada dua orang laki-laki datang yang tugasnya bertanya-tanya tentang segala hal menyangkut kehidupannya.

Mama Meryl masih mengingat saat ia ditanya tentang pekerjaan dan yang lainnya. Saat itulah ia mendapatkan kepastian bahwa akan dibawa ke rumah masing-masing terlebih dahulu, sebelum nanti akan dimasukkan ke asrama di Sanggeng. Mama Meryl masih ingat bahwa di asrama inilah tempatnya “disekap” beberapa waktu sebelum pelaksanaan Pepera di Manokwari pada bulan Juli 1969.

Mess di Sanggeng itu khusus untuk menampung orang-orang yang akan dipersiapkan untuk pelaksanaan Pepera di Manokwari pada bulan Juli 1969. Masing-masing kamar dipersiapkan untuk satu orang, tidak lebih. Masing-masing tidak boleh saling bertemu apalagi bercerita satu dengan lainnya. Larangan juga berlaku pada kaum laki-laki. Mereka tidak boleh saling bertemu dan saling berbicara.

Mama Meryl menceritakan pernah pada suatu saat, mereka berkumpul dan duduk-duduk. Melihat keadaan itu, pengawas di asrama kemudian bertanya sedang berdiskusi tentang apa. “Kitong (kita) dengar saja dan ikut yang dong (mereka) mau,” kisah Mama Meryl.

Pada saat itu situasi sangat mencekam. Mereka tidak tahu mau bikin apa. Semuanya salah. “Kita juga tidak mau mati saat itu,” kisah Mama Meryl. Ia melanjutkan pada saat itu ia melihat anak-anak muda Papua diambil dan dipukul secara membabi buta di asrama Sanggeng. “Pada saat itu saya sedang hamil besar,” kisahnya.

Mama Meryl mengungkapkan bahwa yang mengetahui permasalahan Pepera tersebut adalah para laki-laki. Saat itu, khusus di Kabupaten Manokwari, jumlah yang ikut Pepera adalah 75 orang dan saat ini sudah banyak yang meninggal dunia. Para laki-laki yang dimaksud oleh Mama Meryl adalah pelaku Pepera yang hingga kini masih hidup di Manokwari yaitu: Pendeta Zeth Rumere, Beny Airori, Ismail Ishak Yenu, dan Thonje Sorbu. Beberapa nama itu yang hingga kini masih ada di Manokwari.

Ikut yang Dong Mau

Pada saat itu, Mama Meryl mengisahkan bahwa hanya ada tiga perempuan di Manokwari yang ikut dalam Pepera 1969, termasuk dirinya. Dua perempuan lainnya adalah Yokbet Momogim dan alm. Yakomina Urbon. Mereka bertiga saling mengenal satu dengan yang lainnya, namun pada saat menjelang berlangsungnya Pepera tidak saling bertemu.

Pada saat menjelang pelaksanaan Pepera, Mama Meryl sedang hamil besar. “Kami mama-mama tidak tahu apa pun tentang politik dan Pepera. Bapak-bapak dong yang tahu itu,” ungkapnya. Selama di asrama penampungan, mereka selalu diawasi dengan ketat. “Mungkin hanya ke kamar kecil saja tidak diantar. Ke mana-mana diantar terus,” jelasnya.

Mama Meryl mengisahkan bahwa para perempuan yang berada di asrama diawasi oleh masing-masing satu orang polisi. Polisi inilah yang bertugas untuk menjaga segala macam aktivitas sehari-hari dari perempuan DMP (Dewan Musyawarah Pepera). Bahkan, jika izin ke rumah untuk menengok keluarga juga dikawal oleh polisi. Jadi gerak-gerak anggota DMP tidak pernah lepas dari pengawasan dari penjaganya masing-masing.

Para dokter datang menuju asrama penampungan untuk memeriksa kesehatan para penghuninya. Pemeriksaan pun dilakukan secara tertutup bagi masing-masing perempuan yang ada di asrama penampungan. Tidak ada yang namanya kumpul-kumpul dan pertemuan di antara mereka. “Tidak bisa ketemu-ketemu dengan teman yang lain,” kisah Mama Meryl. Oleh sebab itulah ia ingat betul yang ada dalam pikirannya saat itu adalah mengikuti saja kemauan dari pemerintah Indonesia yang mengatur mereka.

Pada masa penampungan di asrama Pepera itu, Mama Meryl merasakan “penyekapan” dan sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk bertemu dengan siapa pun. “Tong juga tidak tahu akan ditugaskan apa,” kisahnya. Oleh sebab itulah semua yang berada di penampungan asrama juga berprinsip sama. “Ikut saja apa yang dong bilang.” Dan benar saja, saat waktu pelaksanaan Pepera, mereka sudah disiapkan.

Penulis adalah Staf Pendidik/Dosen Jurusan Antropologi, Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.


Copyright ©Tabloid JUBI "sumber"
Hubungi kami di E-Mail: [email protected]

Post a Comment

  1. Tuhan jangan kami dipermainkan lagi oleh bangsa Kolonial dan kapitalis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kisa PERISTIWA yang sangat tidak Manusiawi.

      Salam.

      Delete
  2. Optimis. Sepintar-pintarnya tupai melompat akan jatuh jugaa. Free West Papua.

    ReplyDelete
  3. Ikut sj yg dong mau, akhirnya diartikulasi menjadi IRIAN yg kepanjagannya adalah Ikut Republik Indonesia Anti Netherland

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cepat atau lambat, waktu akan mengungkap semua pembohongan publik yang telah terjadi di West Papua.

      Terima kasih atas komentarnya, Wa, wa, wa...!!

      Delete

 
Top