0
Polisi Ancam Jebak Staf Komnas HAM Kantor Pewakilan Papua dengan Pasal Tertentu
Kepala Kantor Komnas HAM Papua, Frits Ramandey (kiri) dan Nareki Kogoya (kanan) Usai Melapor di Propam Polda Papua, Senin (22/5/2017).
Jayapura -- Pemukulan terhadap staf Komnas HAM Kantor Perwakilan Papua, Nareki Kogoya yang diduga dilakukan oknum anggota polisi dari Polres Jayapura Kota di Perumahan Pemda, Buper Waena, Kota Jayapura, Kamis (18/5/2017), dilaporkan ke Propam Polda Papua, Senin (22/5/2017).

Usai membuat laporan, Nareki Kogoya mengatakan, ketika itu sejumlah anggota polisi masuk ke kompleks tempat ia tinggal. Polisi mencari pelaku pembunuhan dosen Fakultas Ekonomi Uncen, Dr. Suwandi.

"Saya bilang, nanti saya bantu. Saya yang bina mereka, anak-anak jangan dipukul. Anak-anak itu tidak tahu masalah," kata Nareki.

Menurutnya, polisi bertanya siapa Nareki dan ia menjelaskan, dia adalah staf Komnas HAM Kantor Perwakilan Papua. Namun malah diinterogasi, dibawa ke mobil polisi dan dipukul. Akibatnya, Nareki mengalami luka di sudut bibir kiri. Nareki dinaikkan ke mobil dan dibawa ke Polsek Heram.

"Saya bilang, kita sesama pekerja hukum saya siap memberikan informasi jika dibutuhkan. Setelah interogasi di Polsek, salah satu polisi bilang ke saya, jangan lapor kemana-kemana. Kalau saya lapor ada pasal untuk menjebak saya. Saya menyesal, diintimidasi dan diteror akan dijebak dengan pasal tertentu," ujarnya.

Di Polsek Heram Nareki akan di BAP, namun ia menolak. Katanya, ia hanya memberikan keterangan. Kenapa seakan-akan dituduh sebagai pelaku.

Di tempat yang sama, kepala kantor Komnas HAM Papua, Frits Ramandey mengatakan, tak ada yang kebal hukum termasuk staf Komnas HAM. Namun yang disesalkan, stafnya tetap dipukul dan dibawa ke Polsek Heram meski telah menyatakan dia adalah staf Komnas HAM Kantor Perwakilan Papua.

"Kami berkoordinasi dengan Kapolda dan Kapolda menyarankan untuk melapor ke Propam agar polisi yang diduga melakukan pemukulan dicari," kata Frits.

Pihaknya ingin kasus ini dituntaskan agar tidak menjadi preseden buruk terhadap pekerja HAM.

"Kami dapat intimidasi, tekanan, itu biasa. Tapi kalau tindakan kriminal, itu kami tidak terima. Kami keberatan. Kami ingin pelaku diproses," ujarnya.

Katanya, Nareki Kogoya satu-satunya staf di Komnas HAM Kantor Perwakilan Papua yang punya lisensi sebagai komunikator, sehingga ia lebih mengedepankan pendekatan persuasif. Kasus ini juga telah dilaporkan ke Komnas HAM RI. "Memang belum diketahui siapa oknum polisi yang melakukan pemukulan. Tapi saya pikir tidak sulit mengindentifikasi. Tinggal tanya komandannya yang memimpin tim ketika itu," imbuhnya. (*)


Copyright ©Tabloid JUBI "sumber"
Hubungi kami di E-Mail: [email protected]

Post a Comment

 
Top
close