0

Foto: Otis  Tabuni, Badan Pengawas organisasi Pusat 
Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nduga se Indonesia


Tabloid-Wani.com, Jayapura 20 Mei 2017,  Kondisi kota Jayapura kini mencekam, aktivitas masyarakat lumpuh total dan seluruh masyarakat di jayapura sedang dalam keadaan ketakutan. Hal ini muncul seketika kemarin pagi (19/05/2017) temukan jenaza seorang perempuan asal suku Ambon di parit got. Menurut informasi yang dipantau melalui medsos, pada malam hari disekitar kompleks depan PLTD tempat dimana tempat penemuan jenaza yang dimaksud itu ada acara anak-anak muda. Acara tersebut berlanjut hingga jam 04:00 WIT hingga pagi ditemukan mayat tak bernyawa terlentang di got.  Atas kejadian tersebut, pada sore hari kira-kira jam 05:30 WIT terjadi aksi penembakan oleh aparat kepolisian terhadap orang asli Papua atas nama Maikel Ilitamon. Menurut informasi yang diperoleh, pada awalnya kapolresta kota Jayapura mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap dugaan atas pelaku pembunuhan terhadap Perempuan asal Ambon pada pagi hari tersebut.  Tetapi tibah-tibah pihak keamanan melakukan penembakan terhadap beberapa pemuda yang akibatnya satu orang dari dua orang tertembak tewas ditempat sedangkan yang satunya luka tembakan kritis.
Setelah peristiwa penembakan ini, situasi kota Jayapura semakin mencekam. Pada malam harinya pihak korban pertama (perempuan Asal Ambon) melakukan perlawanan dengan cara mencari OAP untuk melakukan pembunuhan pembalasan. Pada malam hari itu, segerombolan ditempat duka yang berkisaran 200 orang menggunakan alat tajam dan mengikat kain merah di kepala lalu berterik-teriak sebagai bentuk pelampiasan kemarahan mereka. Pada waktu yang sama, pihak keamanan melakukan penjagaan secara ketat agar orang asli Papua tidak diperboleh melintasi dijalur yang sedang dikuasai oleh kelompok gerombolan dari Maluku,Ambon. Jam 1:50 WIT sebuah motor melawati dan kepolisian berusaha menghentikan kedua motor tersebut, namun tak henti lalu sebuah motor yang mengendari 2 orang Papua ini masuk dalam kerumunan masa dan tewas terbunuh pada malam subuh tadi. 
Setelah kejadian tersebut, situasi semakin mencekam, pada pukul 05:00 WIT lagi-lagi ditemukan korban tewas atas nama Pius  Kuluwa, PNS Kab. Puncak Papua, selain itu aparat kepolisian negara menembak mati dua orang, masing-masing atas nama Maikel Ilintamol Musa. Pembunuhan juga merabah kemana-mana dengan motif tertentu. Menurut informasi yang dipantau melalui medsos, korban OAP sebanyak 5 orang namun hingga malam ini rupanya  ada penambahan jumlah korban. Semntara korban non Papua satu orang  berjenis kelamin perempuan (korban meninggal pada pagi hari).
Pada tanggal 20 Mei 2017, aparat gabungan TNI dan POLRI Polda Papua sedang melakukan penggusuran di wilayah kedudukan kantor Komite Nasional Papua Barat (KNPB) di kampung Vietnam. Sedangkan tadi pagi terjadi aksi serang menyerang  di Waena dan sekitarnya hingga saat ini kota Jayapura semakin mencekam.
Atas persoalan ini saya mewakili Mahasiswa Papua dan Intelektual se Jawa dan Bali mendasak kepada :
1.      Pertama, Kapolda Papua Yang Baru, Boy Rafli Amar  segera melakukan pengamana ekstra ketat diseluruh titik kota Jayapura dan melakukan penyelidikan terkait kasus pembunuhan perempuan suku bangsa Ambon. Siapa dibalik dugaan pembunuhan perempuan tersebut dan bagimana proses penanganannya sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku di negara rebuplik Indonesia.
Kedua, segera bertanggungjawab korban penembakan terhadap OAP yang menyebakan hilangnya nyawa tanpa proses hukum. Apabila korban adalah target dugaan pihak kepolisian di Papua, mengapa langsung melakukan penembakan? Sedang polisi memiliki tugas yang memanusiakan manusia bukan untuk eksekusi secara langsung seperti teroris di Indonesia. Hal itu merusak citra kapolda baru yang mulia, oleh karenanya demi citra sebagai pemimpin kepolisian tertinggi di Papua oleh sebabnya segara benrtindak secara hukum sesuai perntah kontitusi RI.
Ketiga, kapolda Papua segera mengeluarkan suart penangkapan terhadap orang-orang yang menghilangkan nyawa manusia baik itu pembunuhan terhadap seorang wanita asal Ambon ataupun pelaku pembunuhan terhadap OAP agar diproses secara hukum.
2.      Pertama, Pemerintah Provinsi Papua segera melakukan konsolidasi dengan pihak kepolisianpolda Papua dan Pangdam cenderawasih dan mengadakan pertemuan antara rayat Papua dan masyarakat dari Ambon dalam waktu sesingkat-singkatnya sehingga peroses perdamain segera terwujud dan mengarah seluruh peristiwa kemarin hingga hari ini belum dan menlakukan preventif agar tidak ada aksi susulan oleh kedua pihak
Kedua, Pihak Pemerintah Provinsi, DPRP dan KPU provinsi melaksanakan sidang mendadak untuk memindahkan agenda pelantikan ke 5 Bupati yang direncakana akan dilaksanakan pada hari senin 22 Mei 2017. Jika hal itu tidak dilakukan, maka bukti ketidak seriusan pihak pemerintah dalam penyelesaian persoalan yang sedang berlangsung di Papua.
Ketiga, Pemerintah provinsi Papua, DPRP, MRP, Bupati se Papua, DPRD, Toko masyarakat, toko gereja, kaum perempuan, LMS, Mahasiswa dan elemen-elemen lainnya agar mengadakan pertemuan dengan pihak TNI, Polri dan perwakilan masing-masing masyarakat se nusantara yang sedang mencari makan di Papua untuk menghasilkan suatu rekonsiliasi perdamaian dan pernyataan tidak dilakukannya pembunuhan secara sewenang-wenang.
Hal ini harus dilakukan mengingat berbagai persoalan yang telah sedang dan akan terjadi di Papua. Suatu consensus yang dibuat atas dasar kesepatakan bersama oleh berbagai pihak ini akan menjadi acuan bagi setiap orang yang dapat melakukan perbuatan hukum di Papua.
Rekonsulisian perdamaian yang diputuskan dibaut berdasarkan konsep hukum, HAM dan demokrasi bagii Papua lalu harus ditandatangani oleh seluruh perwakilan suku bangsa senusantara agar memberikan penghormatan terhadap hak asasi manusia Papua sehingga dapat beraktifitas secara bebas, damai amana dan terkendali.
Segala isu yang dikaitkan dengan isu politik perjuangan Papua adalah upaya negara untuk melegalkan pelanggaran yang terjadi di Papua. segala kepentingan yang menciptakan gejolak sosial di Papua merupakn suatu penghianatan terhadap martabat kemanusiaan bagi mansuai Papua.
Selain upaya tersebut, Polda Papua segera memproses secara hukum atas kasus penembakan yang  menyebabkan terbunuhnya nyawa rakyat yang tak berdosa. Saya memohon kepada Bapa , Boy Rafli Amar  selaku POLDA Papua secara tegas memeriksa terkait anak buahnya yang terlibat pada aksi penembakan terhadap waarga Papua.  Mereka yang korban merupakan bukan pelaku atas pembunuhan perempuan Ambon tersebut sehingga apa yang dilakukan oleh kepolisian di Papua itu telah melakukan kejahatan secara luar biasa ( extra ordinary crime). Hal itu merujuk pada unsur-unsur pelanggaran berat HAM diantaranya oleh intitusi negara kepolisian, memakai seragam dan menggunakan senjata sebagai alat negara yang seharusnya tidak menembak mati warganya sendiri.  Oleh karena itu, mereka telah melanggar undang-undang HAM, telah melakukan perbuatan pidana maka konsekuensi dari apa yang mereka perbuat harus dipertanggungjawabkan secara hukum sesuai perbuatannya. ,
Jika Kapolda Papua, Gubernur Papua, DPRP dan MRP tidak mengambil langkah secara cepat, maka akan mengarah ke konflik yang lebih besar. Apa lagi yang sedang berkonflik adalah orang asli Papua dan Pendatang yang berasal dari Ambon.


Posted by:  Otis Tabuni
Copyright ©........ "Analisis kasus oleh Otis Tabuni"
Hubungi kami di E-Mail: [email protected]

Post a Comment

 
Top
close