JP Morgan Turunkan Peringkat Saham Freeport

Share Story

JP Morgan Turunkan Peringkat Saham Freeport
Pertambangan Grasberg di Papua, yang dikelola oleh PT Freeport Indonesia.

New York — Lembaga keuangan global, J.P. Morgan, menurunkan peringkat saham Freeport-McMoRan Inc, induk dari PT Freeport Indonesia, pengelola tambang Grasberg di Papua. Peringkat sahamnya diturunkan dari overweight ke netral, menyusul berbagai hambatan yang dialami perusahaan itu, termasuk sengketa tenaga kerja di Indonesia.


Dalam analisisnya kepada klien, Michael Gambardella, analis J.P. Morgan mengatakan, Freeport kemungkinan akan menghadapi pemangkasan tenaga kerja dan produksi jika kontraknya tidak diperbarui oleh Indonesia. Freeport juga menghadapi masalah pemogokan yang harus diatasi.

“Walaupun kami yakin bahwa Freeport akan mencapai kesepakatan terkait Kontrak Karya dengan Indonesia, penyelesaian masalahnya akan memakan waktu, yang
akan membebani saham Freeport,” tulis analis itu, dilansir dari Financial Post.


Dalam istilah pasar saham, overweight adalah rekomendasi untuk saham yang diperkirakan kenaikannya bisa melebihi sekumpulan saham yang menjadi patokan. Sekumpulan saham ini biasanya diambil dari perusahaan dari industri yang sama atau kumpulan saham pilihan analis atau broker itu sendiri.

Netral atau equalweight adalah saham yang diperkirakan kenaikannya kira-kira setara dengan sekumpulan saham yang menjadi patokan.

Ada pun underweight adalah saham yang diperkirakan cenderung turun dibanding dengan sekumpulan saham yang menjadi patokan.

Gambardella mengakui bahwa Freeport berhasil membenahi neraca mereka dalam satu tahun terakhir, dengan menjual aset pada harga yang menarik di lingkungan yang sulit untuk komoditas.

Ia menambahkan, meskipun Freeport McMoran melakukan penjualan aset, laba Freeport akan meningkat, karena harga logam dan produksi emas di tambang Grasberg lebih tinggi.

Freeport telah mengurangi beban utang sekitar US$ 12 miliar dari US$ 20 miliar pada akhir 2015.

Gambardella percaya pengurangan utang itu dapat menghasilkan sekitar US$ 4,7 miliar pada arus kas kumulatif pada tahun 2017 dan 2018 yang dapat digunakan untuk membayar lebih banyak utang lagi.

Lebih jauh walau ia menilai tidak akan ada penjualan aset signifikan lagi yang akan dilakukan Freeport, ia mencatat bahwa Freeport bisa saja mendivestasi aset minyak dan gas yang tersisa, atau menjual saham kepemilikan tambang di Grasberg lebih banyak lagi.

Freeport belakangan ini menghadapi tekanan akibat belum diperpanjangnya izin ekspor konsetrat oleh pemerintah. Pemerintah juga belum memberikan lampu hijau untuk memperpanjang kontrak Freeport di tambang Grasberg Papua.

Kemarin, CEO RIo Tionto, salah satu pemegang saham PT Freeport Indonesia, mengancam akan hengkan dari tambang itu, apabila masalah yang dihadapi PT Freeport tidak dapat diselesaikan dalam beberapa pekan ke depan.

Copyright ©Satu HarapanHubungi kami di E-Mail: tabloid.wani@gmail.com

Tags

Share Article

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Related Posts

This is articles having same tags as the current post.