Jurnalis Ditangkap, AJI Jayapura Minta Polisi tidak Represif

Share Story

Jurnalis Ditangkap, AJI Jayapura Minta Polisi tidak Represif
Wens Tebay, kontributor majalah Asasi menunjukkan lehernya yang dicekik oleh polisi – Foto: Benny Mawel
Jayapura — Wens Tebay, kontributor majalah Asasi yang diterbitkan ELSAM Jakarta di Jayapura ditahan Polres Kota Jayapura bersama dengan demonstran Komite Nasional Papua Barat (KNPB) saat aksi penolakan Trikora, Senin (19/12/2016)
“Polisi bawa saya tadi ke Polresta. Mereka ambil keterangan baru suruh saya pulang,” ungkap Tebay kepada Jubi, Senin (19/12/2016).
Kata dia, ia ditangkap saat meliput polisi melakukan penghadangan, pemukulan dan penangkapan demonstran KNPB di Expo Waena.
“Saya ambil-ambil gambar. Polisi datang tanya saya, saya tunjukan kartu pers. Mereka tidak percaya, tarik dan cekik leher saya ini hingga saya tidak bisa bernafas,” ujarnya sambil memperagakan bagaimana dia di cekik.
“Ada yang tarik baju saya. Dada saya ini memar. Kena kuku atau gelang anggota, saya tidak tahu,” ungkapnya sambil menunjukan dadanya yang memar.
Lanjut dia, polisi menaikan dia bergabung dengan sembilan demonstran yang sudah ada dalam truk polisi. Truk itu, kemudian membawanya ke Polresta.
“Saya dipulangkan setelah ambil keterangan dan demonstran masih ditahan di halaman Polresta,” ujarnya.
Di lokasi berbeda, Sekretariat Pusat KNPB di Kamp Vietnam, Arnold Belau, Pimpinan Redaksi suarapapua.com, dan Zelly Ariane dari tabloidjubi.com dilarang oleh polisi memotret aksi polisi yang melakukan pemeriksaan kantor Sekretariat pusat KNPB di Kamp Wolker, Waena, Kota Jayapura.
Ketua Aliansi Jurnalis Independen Kota Jayapura, Everth Jomoulena mengharapkan pihak kepolisian tidak terlalu reaktif terhadap kerja-kerja pers di Papua. 
“Pihak kepolsian tidak perlu represif, bisa membedakan mana wartawan dan masa,” ujarnya kepada Jubi.
Supaya antisipasi kejadian salah kaprah, Everth harapkan kepada jurnalis tidak terlalu dekat dengan masa aksi. Jurnalis mesti mengambil posisi yang tepat supaya tidak kena imbas. 
“Kita harapkan wartawan bisa mengambil jarak dari masa aksi. Kalau polisi terlanjur emosi memang sulit. Tetapi dalam keadaan emosi juga polisi mesti membedakan,” ujarnya.
Kepada polisi, Everth harapkan tidak terlalu mencurigai wartawan.
“Wartawan tidak boleh dicurigai begitu saja karena kedekatan dengan kelompok tertentu. Polisi juga tidak bisa larang kerja-kerja pers di ruang publik. Jadi polisi tidak bisa larang melarang,” tegasnya. (*)
Posted by: Benny Mawel
Copyright ©Tabloid WANIHubungi kami di E-Mail: tabloid.wani@gmail.com

Tags

Share Article

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Related Posts

This is articles having same tags as the current post.