0
Anak Papua di Luar negeri "terlantar", orang tua temui DPR Papua
Pertemuan perwakilan orang tua mahasiswa Papua di luar negeri dengan Komisi V DPR Papua. Foto: Arjuna
Jayapura - Dua perwakilan orang tua siswa dan mahasiswa Papua yang kuliah dan sekolah di sejumlah kampus dan sekolah di berbagai negara atau Luar Negeri (LN) menemui Komisi V DPR Papua, komisi bidang pendidikan, Selasa (22/11/2016) di Gedung DPR Papua.

Melias Adii dan Yosefat Awom mengaku bertemu Komisi V DPR Papua mewakili anak-anak Papua yang mengenyam pendidikan di LN lantaran kini mereka terancam di keluarkan dari kampus dan sekolah tempat mereka menuntut ilmu.

"Beberapa hari lalu anak saya menyampaikan, sudah tiga bulan belum terima uang dari Pemprov Papua. Beruntung, universitas tempat ia kuliah di New Zeland, membayarkan dulu biaya kuliahnya. Setelah itu nanti Pemprov Papua yang akan membayarnya. Anak saya mengaku ia bersama mahasiswa lainnya hanya diberikan uang tiket pulang ke Indonesia. Ia tak apakah nanti bisa kembali ke New Zeland atau tidak," kata Melias Adii ketika bertemu Komisi V DPR Papua.

Hal yang sama dikatakan Yosefat Awom. Katanya, ia mendapat informasi dari mahasiswa Papua yang kuliah di sejumlah negara diantaranya New Zeland, Australia, Amerika dan negara lainnya.

"Di New Zeland mungkin 26 November 2016 ini, anak-anak akan dipulangkan karena kabarnya tunggakan mereka sudah mencapai Rp10 miliar. Anak saya juga bilang begitu kepada saya," kata Awom.

Ia meminta Komisi V DPR Papua memanggil Kepala Biro SDM Papua untuk membicarakan hal tersebut. Katanya, komisi terkait perlu mempertanyakan kemana dana itu.

"Kalau tak ada jawaban jelas, bapa ibu dewan bisa mendorong ini keranah hukum. Kalau memang penggunaan dana itu tak jelas minta penyidik kejaksaan menelusuri ini. Jangan korbankan anak-anak kita," ucapnya.

Awom yang mengaku anaknya kini kuliah di salah satu univesitas di Sidney Australia itu menyatakan bangga dengan program Gubernur Papua yang bernama Papua Smart. Untuk itu masalah ini perlu segera dicarikan solusi.

Sementara Ketua Komisi V DPR Papua, Yakoba Lobere mengatakan, pihaknya akan memanggil Kepala Biro SDM Papua menanyakan kebenaran informasi itu.

"Informasi dan laporan dari perwakilan orang tua anak-anak Papua yang kuliah di luar negeri ini akan kami tanyakan ke Biro SDM. Kabarnya ada anak Papua di luar negeri yang terancam dikeluarkan dari kampus lantaran menunggak uang kuliah. Kami tak bisa mendengar hanya sepihak. Harus ada penjelasan dari Biro SDM," kata Yakoba.

Meski begitu, politisi PDI Perjuangan tersebut menyatakan, sudah menjadi tugas dan tanggungjawab pihaknya memperjuangkan apa yang menjadi aspirasi masyarakat.

Hal yang sama dikatakan Sekretaris Komisi V DPR Papua, Nason Uti. Ia mengatakan, anak Papua yang kuliah di LN menjadi tanggungjawab mutlak pemerintah karena pemerintah yang mengirim mereka.

"Harus dipikirkan langkah yang tepat. Ini masalah serius. Ada 1700 lebih anak-anak Papua di luar negeri. Ini harus ditanyakan langsung ke pihak SDM apa masalahnya. Apakah anggaran kurang atau seperti apa," kata Nason.

Pertemuan tersebut selain dihadiri Ketua Komisi V, Yakoba Lobere, Sekretaris Komisi V, Nason Uti, juga hadir Wakil Ketua Komisi V, Nioulen Kotouki, anggota Komisi V, Natan Pahabol, Mari Duwitauw, Jack Kamasan Komboy, Gerson Soma dan Jhoni Banua Rouw. (*)



Copyright ©Tabloid JUBI

Post a Comment

Silahkan beri KOMENTAR anda...!!! dibawa sini... :p

 
Top