DPR Papua Kecewa dengan Tanggapan Polda DIY

Share Story

Pertemuan antara Tim DPR Papua dengan Polda DIY di kediamannya 27/07/2016. Foto: Laurenzus Kadepa
Tabloid-WANI, Yogyakarta — Setelah Tim utusan DPR Papua tibah di Yogyakarta untuk bertemu langsung dan mendengarkan keterangan terkait insiden tindakan represif berbasis diskriminasi dan rasis terhadap mahasiswa Papua di asrama Kamasan I Yogyakarta pada tanggal 14-16 Juli.

Tim utusan DPR Papua melanjutkan kunjungannya dari asrama mahasiswa Papua Kamasan I menuju ke kediaman Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Jl. Laksamana Adi Sucipto, Km. 60.

Pertemuan Tim DPR Papua dengan Polda DIY bertujuan untuk mendengarkan keterangan secara langsung  terkait insiden yang dilakukan oleh Ormas setempat yang di bekingi oleh kepolisian terhadap mahasiswa Papua di asrama Kamasan I beberapa waktu yang lalu tersebut.

Baca juga:

  1. Analisis: Tindakan Kepolisian dan Ormas Sangat Bertentangan dengan Undang-Undang
  2. Inilah Delapan Pelanggaran Insiden Asrama Papua Yogyakarta
  3. Insiden Yogya, DPR Papua Minta Maaf ke Mahasiswa
  4. Warga Papua Putuskan Meninggalkan Kota Yogyakarta

Dalam pertemuan Tim DPR Papua dengan Polda DIY pada hari rabu (29/07), ada terjadi sedikit  perdebatan alot dengan Kapolda DIY kemarin. Legislator Papua Laurenzus Kadepa menggatakan “kami sudah berbicara banyak sesuai data fakta yang kami dengar dan terima lansung oleh mahasiswa Papua dari asrama Kamasan I Yogyakarta. Kamipun sudah meminta Kapolda tentang jaminan keamanan dan kenyamanan bagi mahasiswa Papua di Yogyakarta dalam bentuk tulisan namun Kapolda tidak menanggapinya. Jawaban Kapolda terlihat keras karena kita lebih keras dalam pertemuan” ujar Kadepa melalui pesan singkatnya kepada Tabloid WANI.

Berikut ini jawaban yang Kapolda DIY berikan kepada Tim DPR Papua saat bertemu langsung:

  1. Kapolda menyesal kasus Yogyakarta sudah menjadi konsumsi politik bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Kapolda bantah semua data di media sosial, media online, media masa yang beredar masalah pengepungan asrama mahasiswa Papua Kamasan I Jalan Kusumanegara No.119 tanggal 14-16 Juli 2016 adalah salah, tidak benar, data itu memutarbalikan fakta, itu kerja LSM yang selalu menjual negara, juga ada keterlibatan pihak ke tiga/asing. Sehingga siapa yang menjadi otaknya kami sedang dalam penyelidikan.
  2. Kapolda bicara, polisi justru datang hanya melakukan pengaman jangan sampai terjadi bentrok antara ormas NKRI Harga Mati dan kelompok mahasiswa yang mau melakukan kegiatan separatis.
  3. Kapolda bicara, Yogyakarta aman untuk semua orang, termasuk juga orang Papua dan mahasiswa Papua, saya jamin. Kecuali mereka melakukan kegiatan yang berhubungan dengan separatis, makar yaitu tuntutan Papua Merdeka. Kami tetap bertindak.

Dalam pertemuan tersebut DPR Papua sangat kecewa dengan jawaban Kapolda DIY terkait peristiwa pengepungan asrama mahasiswa Papua Kamasan I Yogyakarta, pada tanggal 14-16 Juli 2016 tersebut.

Tidak ada pernyataan tertulis oleh Kapolda DIY tentang jaminan keamanan dan kenyamanan bagi mahasiswa Papua.

Kapolda sedikitpun tidak mengakui keterlibatan oknum institusi kepolisian juga Ormas dalam kasus pengepungan asrama Papua Kamasan I DIY dan Kapolda membantah semua fakta data adalah bohong, dan menuduh pihak lain/asin dan LSM yang bermain. Dari jawaban ini, kemungkinan kedepan institusi kepolisian termasuk juga dengan Ormas dengan seenaknya akan melakukan apapun terhadap mahasiswa Papua. Tidak akan ada tempat bagi mahasiswa Papua untuk berdemokrasi.

Posted by: ERIK
Copyright ©Tabloid WANI



Tanggapan anda, Silahkan beri KOMENTAR di bawa postingan ini…!!!

Tags

Share Article

3 Comments

  1. Orang tua kami di Papua sibuk dan urus transmigrasi. Orang Papua di pandang nomor dua diJawa.kesimpulannya, Bapa2 kita jga harus gabung menuntut aspirasi masyarakat Papua "Referendum"

  2. Mahasiswa Papua se-Jawa Bali, Buatkanlah suatu Surat Persetujuan Penukaran Pemulangan Penduduk, Karena yang jelasnya Bangsa Monyet tidak bisa tinggal bersamaan dengan Bangsa Manusia, Manusia yg sengan hidup di Habitat Monyet Kembali ke Habitatnya dan Bangsa Monyet yang di Usir Kembali ke Asalnya, dan Surat tersebut di Setujui Oleh Kepala Suku adat Masing-masing dan Tokoh Agama dan serta diberi tandatangan Persetujuan dan tinggalkan Kolom Untuk Persetujuan Dari Sultan DIY dan satuh Kolom Oleh Presiden Republik Indonesia/Joko Widodoyang. Jika sudah semuanya dan Kirimkan ke ke2 Propinsi Papua sei leh Gubernur Papua dan di Tempel di tempat-tempat strategis dan berikut di kampanyekan terkait pemulangan Demikian biar Lebih Meruncing Kepada Teknis Kepulangan ke-2 Bangsa yang berbeda Tersebut

    Sumber: http://www.tabloid-wani.com/2016/07/Mmathias-wenda-orang-papua-di-tanah-jawa-pulang-berarti-orang-jawa-di-tanah-papua-juga-pulang.html?showComment=1469970415909#c6096950644980259694

  3. Atau Versi ke-2 yakni : Buatlah surat dan Pertama-tama di tandatangani Oleh Sultan DIY, muntuk menunjukan Komitmennya terkait bahasa yang sudah di keluarkan di publik yang sdh menjadi bahan konsumsi umum yang harus menunjukan Komitmennya dalam bembubuhi penandatanganan, bertolak dari itu dll lagi mengikuti. dan Jikalau tidak mau berarti Buat Surat Resmi Tertulis Dari Sultan DIY terkait Permintaan maaf dan yang tak kalah pentingnya lagi Terkait Surat Pernyataan Ketidak Berulangan Kembali, Demikian biar lebih meruncing lagi untuk bisa kita mengetahui terkait Kebesarannya dalam Berbicara di Publick dan Tertuang dalam Penandatanganan Sama_Karna Jati Diri kami Jangan di Injak, dan Perlu ketegasan disini dalam Berbicara dan Surata Resmi darinya si penanggung jawab, Demikian share kali ini biar lebih meruncing

    Sumber: http://www.tabloid-wani.com/2016/07/Mmathias-wenda-orang-papua-di-tanah-jawa-pulang-berarti-orang-jawa-di-tanah-papua-juga-pulang.html?showComment=1469970415909#c6096950644980259694

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Related Posts

This is articles having same tags as the current post.