Forkopimda Papua, Toga dan Tomas Cari Solusi Pembangunan Masjid di Wamena
Para Forkopimda dan Tokoh Agama usai Pertemuan di Polda Papua, Selasa (1/3/2016)
Jayapura, WANI/Jubi – Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Papua, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat dan berbagai pihak terkait melakukan pertemuan mencari solusi pasca beredarnya isu pembangunan masjid Baiturahman di Kota Wamena, Jayawijaya akan dibangun empat lantai, lebih tinggi dari patung salib di kota itu dan berimbas pada penolakan umat Kristiani di kabupaten tersebut.

Dalam pertemuan di Polda Papua tersebut, Selasa (1/3/2016) terungkap jika masjid hanya akan dibangun satu lantai. Bukan empat lantai seperti isi pesan singkat yang disebarkan oknum tak bertanggungjawab beberapa pekan lalu.

Kapolda Papua, Inspektur Jenderal (Pol) Paulus Waterpauw mengatakan, dalam pertemuan itu ada dua isu yang dibahas. Isu pembangunan masjid Baitulrahman di Jayawijaya dan issu terkait tanah Puspenka di Sentani, Kabupaten Jayapura.

“Isu pembangunan masjid di Jayawijaya, kami hadirkan semua pihak terutama dari Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB), baik umat kristiani maupun muslim dan pemerintahnya. Ini isu sudah menyangkut SARA,” kata Kapolda Waterpauw usai pertemuan, Selasa (1/3/2016) petang.

Hasil klarifikasi, semua pihak menyatakan, ada salah paham. Ini isu sentral yang sedang dibangun pihak tak bertanggungjawab. Polda Papua akan mencoba lihat sejauh mana isu itu. Namun semua pihak sepakat menyelesaikan salah paham itu dengan damai.

“Artinya semua hal itu bisa ditangani nanti secara detail, rinci oleh bupati pada 3 Maret 2016 mendatang di Jayawijaya, seperti yang sudah disepakati,” ucapnya.

Katanya, ada empat poin yang dihasilkan dalam pertemuan itu. Pertama isu yang dianggap meresahkan kelompok muslim dan Kristiani di Jayawijaya itu hanya sekedar isu yang dikembangkan pihak tertentu dan tak benar. Poin kedua, berbagai pihak sepakat menyelesaikan masalah itu pada pertemuan, 3 Maret 2016 mendatang di Wamena. Poin ketiga, salah paham itu tak akan dibawa ke ranah hukum dan diselesaikan secara kekeluargaan di Jayawijaya. Poin keempat, dengan adanya kesepakatan itu, jangan ada lagi yang mencoba mengangkat permasalahan tersebut seakan-akan belum ditangani dan diselesaikan.

“Boleh dikata poin keempat tak akan lagi dipermasalahkan secara hukum. Apabila ada pihak baik personal maupun kelompok yang melakukan itu akan bertanggungjawab pada perbuatannya sendiri. Artinya kalau mereka saja yang punya objek masalah sudah mau damai dan menyelesaikannya kami kepolisian mengikuti saja kesepakatan itu,” katanya.

Namun menurut Kapolda, perlu diwaspadai adanya pihak-pihak yang mencoba memperkeruh suasana lewat berbagai cara termasuk media sosial.

Di tempat yang sama, Sekretaris FKUB Jayawijaya, Alex Mauri mengatakan, pesan berantai berisi informasi tak benar terkait pembangunan Masjid Baiturahman diterima pihaknya, 17/2/2016.

“Tapi saya pikir dengan adanya keputusan hari ini jadi kewajiban kami FKUB Jayawijaya bersama-sama dengan persekutuan gereja-gereja di Jayawijaya dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan mengambil langkah-langkah konkrit menciptakan suasana damai agar kerukunan beragama tercipta di Jayawijaya,” kata Alex.

Ia berharap, kedepan tak ada lagi salah paham antar umat beragama. Pihaknya akan mensosialisasikan ke masyarakat kesepakatan yang sudah disepakati bersama itu. Katanya, segala sesuatu akan diselesaikan dengan cara komunikasi yang baik.

Hal yang sama dikatakan Ketua Pengurus Cabang Nadhatul Ulama (NU) Kota Jayapura, Ustad Kahar Yelipele. Menurutnya, ia berterimakasih kepada Kapolda Papua yang segera berupaya menangami salah paham itu.

“Harapan kami Papua aman dan damai. Perlu diketahui kita di Papua sangat majemuk dan kemajemukan itu salah satu yang harus disyukuri. Persatuan dan kesatuan perlu dijaga antar umat beragama,” kata Kahar.



Posted by: Arjuna Pademme
Copyright ©JujurBicara



Tanggapan anda, silahkan beri KOMENTAR
Silahkan beri KOMENTAR anda di bawa postingan ini...!!!
 
Top