0
Jejak Maroef Sjamsoedin di Freeport Indonesia
Mantan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin
WANI/Lampost, Jakarta - Maroef Sjamsoedin secara resmi mengundurkan diri sebagai Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) kemarin, Pengunduran ini menyisakan jejak kepemimpinanya di perusahaan tambang asal Texas, Amerika Serikat (AS) tersebut.

Maroef, yang merupakan lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) bagian Udara pada 1976-1980, itu dipilih James Moffet, Chairman of the Board Freeport McMoRan, karena kelihaiannya menghadapi warga Papua pada 2014.

Dia yang kala itu menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) berhasil menyelesaikan pemogokan yang melibatkan sejumlah warga dan tokoh adat dari Papua.

Setelah terpilih, Maroef melakukan berbagai hal seperti menindaklanjuti instruksi James dengan melakukan badan abritrase untuk mengevaluasi aksi mogok kerja pada Oktober hingga Desember 2014. Dibentuknya badan arbitrase ini untuk melihat keadaan yang menyebabkan aksi mogok dan melibatkan tokoh adat untuk menyelesaikannya.

Keadaan berangsur normal dan mulai terkendali, namun usaha pemberdayaan masyarakat Papua tak berhenti di situ saja. PTFI kembali memberikan sponsorship kepada Persipura, sebagai klub kebanggaan Papua dalam Liga Super Indonesia (LSI) 20115.

Bantuan tak hanya itu karena PTFI juga mendirikan Mimika Sport Complex di Timika, yang ikut ambil bagian dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020.

Komplek olahraga seluas 12,5 hektare (ha) itu berdiri di depan Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika. Komplek itu terdiri dari stadion atletik dan track 400 meter, tribun timur dan barat stadion indoor, asrama atlet putra dan putri.

Pada masa kepemimpinanya, PTFI juga berhasil mendapatkan izin ekspor konsentrat tembaga sebesar 775.000 ton untuk enam bulan ke depan kepada PTFI pada Juli 2015. Pemberian izin ini sebagai konsekuensi dari pembangunan smelter di Gresik.

Pembangunan smelter ini membuat industri pengolahan sesuai dengan peraturan pemerintah dan membuat aktivitas bisnis PTFI kembali berjalan normal dan menggerakan perekonomian Papua.

Pemerintah dan PTFI juga menyepakati perpanjangan pengelolaan Freeport sebelum 2021. Dengan kesepakatan ini pemerintah akan menyetujui perpanjangan kontrak berdasarkan hak yang sama dan tingkat legalitas dan kebijakan fiskal berdasarkan kontrak kerja yang akan ditandatangani.

Menjelang kemundurannya sebagai presdir, Maroef juga dikabarkan memberikan laporan atas permintaan saham mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam negosiasi dengan pemerintah. Sejumlah nama petinggi negara disebut dalam perjanjian tersebut dan diklaim oleh salah satu oknum dapat mempercepat perpanjangan kontrak PTFI yang akan berakhir pada 2021.

Berakhirnya peran Maroef juga diikuti dengan penurunan harga komoditas emas. Kinerja Freeport pada sembilan bulan di 2015 mengalami kerugian sebesar USD156 juta. Ini merupakan kerugian setelah pada kuartal III-2014, PTFI mengalami laba bersih sebesar USD1,5 miliar.

Di tengah penurunan kinerja, banyak pengamat yang mengatakan harga penjualan saham PTFI kepada pemerintah yang senilai USD1,7 miliar dengan porsi 10,6 persen terlalu mahal. Harga yang tak normal ini membuat pemerintah belum mengambil keputusan apapun mengenai perpanjangan kontrak.

Maroef pun memutuskan mundur dari jabatan prestisius tersebut. Setahun sudah Maroef menyisakan berbagai fondasi bagi penerusnya dan menyisakan tantangan yang tak mudah di tengah penurunan harga komoditas emas.


Posted by: MTVN Winarko
Copyright ©Lampost

Post a Comment

Silahkan beri KOMENTAR anda...!!! dibawa sini... :p

 
Top