0
Sejumlah Haul Truck dioperasikan di area tambang terbuka PT Freeport Indonesia di Timika, Papua. 
WANI/Metrotvnews, Jakarta: Kontrak PT Freeport Indonesia akan habis pada 2021. Ini berarti perpanjangan kontrak kedua sejak mulai investasi perdana pada 1967.

Banyak cara dilakukan perusahaan tambang emas asal Amerika itu agar tetap bisa melakukan aktifitasnya di tanah Papua. Sebab, masih banyak cadangan mineral yang bisa dikeruk di sana.

Saat ini, sekitar 60 persen produksi biji atau biasa disebut ore Freeport berasal dari tambang permukaan. Namun, cadangan di pertambangan permukaan sudah memasuki fase habis.

Baca Juga:
Diperkiraan, kontribusi tambang permukaan semakin mengecil pada 2017-2018. Freeport pun berencana melakukan investasi untuk mempersiapkan tambang bawah tanah. Inilah yang memuat PT Freeport Indonesia memiliki kepentingan terhadap perpanjangan kontrak kerja sama hingga 2041.

"Freeport ingin kegiatan operasional diperpanjang, karena sebenarnya kontrak habis pada 2041," kata juru bicara Freeport Indonesia Riza Pratama, Selasa (19/1/2016).

Semenetara itu, SVP Freeport Indonesia Wahyu Sunyoto menyatakan bahwa kunci sukses tambang bawah tanah adalah investasi. "Sehingga dibutuhkan perpenjangan kontrak hingga 2041," lanjutnya.

Namun, niat PT Freeport Indonesia memperpanjang kotrak hingga 2041 terkendala Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 mengenai mineral dan batu bara, yang menetapkan masa kontrak habis setiap 20 tahun. Sehingga kontrak perusahaan yang sempat menjadi sorotan akibat kasus 'Papa Minta Saham' tersebut akan berakhir pada 2021.

Mungkin itulah yang membuat PT Freeport Indonesia berusaha agar pembahasan kontrak dilakukan lebih awal. Pasalnya, dibutuhkan kepastian perpanjangan kontrak agar bisa mempersiapkan pengeboran bawah tanah.

Menurut Wahyu, butuh 10 tahun untuk menyiapkan tambang bawah tanah. Selain itu, PT Freeport Indonesia juga telah menanam modal cukup besar untuk persiapan tersebut.

Tak tanggung-tanggung, untuk 2015 Freeport sudah menggelontorkan 17 juta dolar. Bahkan, perusahaan yang bermarkas di Phoenix, Arizona, Amerika, ini berencana mengeluarkan 10 hingga 15 juta dolar pada 2017 sebagai lanjutan persiapan tambang bawah tanah di kawasan Tembaga Pura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua.


Posted by: Anggitondi Martaon
Copyright ©MetroTvNews

Post a Comment

Silahkan beri KOMENTAR anda...!!! dibawa sini... :p

 
Top