0
Sebarkan ! "Share"...
Buchtar Tabuni: "Kepala Suku Bukan Kapitalis, Imperialis dan Borjuis"
Kepala Suku. Gambar: (ist).
Port Numbay, Tabloid WANI -- Menanggapi kesalahpahaman oknum-oknum tertentu yang mempelajari, mendalami dan mempunyai pemahaman copy paste (paham tiruan) teori Marxisme, Leninisme dst, yang beranggapan bahwa, kepala suku merupakan bagian dari "Borjuis, Kapitalis, Imperialis". Ketua Parlemen Nasional West Papua, Buchtar Tabuni mengatakan, di suatu daerah atau wilayah ada seseorang yang sering disebut sebagai kepala suku, Dia tidak asal disebut. Dia dianggap kepala suku karena Dia Menghormati, Menghargai, Melindungi dan Mengasihi setiap warganya tanpa memandang perbedaan.

"Warga di setip kampung menyebut seseorang kepala suku karena. Dia menghormati, menghargai, melindungi dan mengasihi setiap warga tanpa membedakan status di lingkungan yang dimana dia hidup" kata Buchtar melalui akun halaman Facebook resminya @BUCHTAR TABUNI (15/06/2017).

Tabuni melanjutkan, oknum-oknum ini mereka salah memahami. Mereka perlu menyadari dan memahami bahwa, seorang kepala suku bukan Kapitalis, Imperialis, dan Borjuis. 

"Seorang kepala suku bukan Kapitalis, Imperialis dan Borjuis", tegas Buchtar.

Ia pun meragukan dan mempertanyakan. Apakah kelompok ini merupakan putra-putri adat yang sedang "gagal paham" tentang jati dirinya sebagai generasi Papua, atau, Apakah dibalik kelompok ini, ada aktornya yang berniat buruk untuk menghancurkan nilai-nilai luhur orang asli Papua.

"Apakah kelompok ini anak-anak Adat yang gagal paham tentang jati dirinya sebagai anak-anak Papua?. Apakah kelompok ini ada aktornya untuk menghancurkan nilai-nilai luhur orang asli Papua?" ujar Buchtar Tabuni.

Menurut Pendiri sekaligus mantan Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) ini mengatakan, kelompok tersebut tidak beda jauh dengan Lembaga Masyarakat Adat (LMA), Dewan Adat Papua (DAP) yang dibuat oleh kolonial Indonesia.

"Kelompok ini tidak jauh berbeda dengan LMA dan DAP versi kolonial Indonesia", ujarnya.

Kelompok ini, mereka sedang merajalela dengan mengatasnamakan organisir rakyat. 

Bahasa "provokator" yang paling ampuh mereka gunakan untuk memprovokasi rakyat Papua adalah, hindarilah perjuangan kelompok Papua merdeka versi Sukuisme, Daerahisme, Margaisme, Keluargaisme dst. 

Pesan

Melihat kenyataan tersebut, sehingga Ketua Parlemen Nasional West Papua, Buchtar Tabuni berpesan kepada seluruh rakyat West Papua (Papua), agar selalu dan tetap waspada terhadap kesalahpahaman yang sedang dibangun oleh aktor bersama kelompok-kelompok yang tidak jelas itu. Dan, seluruh rakyat West Papua Perluh dan Harus mempertahankan nasionalisme Papua. Karena disitu ada metode yang paling ampuh untuk melawan penjajahan. Dan juga agar tidak boleh lagi ada penjajahan baru diatas Manusia serta sesama ciptaan di wilayah Papua. 

"Waspada dan pertahankan nasionalisme Papua, karena membangun nasionalisme Papua adalah metode yang paling ampuh untuk melawan penjajahan agar tidak boleh lagi ada penjajahan baru atas manusia dan sesama ciptaan di wilayah West New Gunea (Papua)", tutupnya.



Posted by: Irikngga
Copyright ©Tabloid WANI "sumber"
Hubungi kami di E-Mail: tabloid.wani@gmail.com

Post a Comment

Silahkan beri KOMENTAR anda...!!! dibawa sini... :p

 
Top