0
Sebarkan ! "Share"...
Gambar: Areal pertambangan PT. Freeport Indonesia (Background). Penulis, Minda Korwa (sudut kanan). Ist.
Tabloid WANI, OPINI --Menyaksikan pertarungan antara Freeport dan Pemerintah Indonesia memang mengasyikkan. Sejak tahun 1967, Freeport menikmati fasilitas yang diberikan oleh Presiden kedua Indonesia, Soeharto, dalam bentuk Kontrak Karya. Kontrak Karya ini memungkinkan Freeport untuk mengatur segala macam operasional mereka termasuk keuangan dan pemerintah tidak boleh ikut campur dalam Pelaksanaannya. Sebagai kesepakatan maka nilai saham yaitu 81,28 % milik PT.Freeport, 9,38 % milik pemerintah dan 9,38 % milik PT. Indoccoper Investama.

Sementara Data Recoverable Proven and Probable Mineral Reserves adalah tembaga 42,1 miliar pon, emas 38,3 juta oz dan perak 165 juta oz.
Gejolak terus berdatangan dari periode ke periode Pemerintah vs Freeport, dan pada saat kepemimpinan Jokowi dengan Jonan Menteri ESDM, maka permainanpun berubah. Jonan memaksa PT Freeport untuk mengubah perjanjian Kontrak Karya yang selama ini dinikmati Freeport menjadi ijin pertambangan biasa, sama seperti ijin pertambangan perusahaan lainnya.

Dengan ijin pertambangan biasa itu, maka ada kemungkinan pemerintah Indonesia bisa menguasai (divestasi) saham dari hanya 9,36 % menjadi 51 %. Dalam artian, Freeport satu saat akan menjadi milik Indonesia. Yang artinya Apabila pemerintah menguasai saham Freeport sebesar 51%, maka secara tidak langsung bangsa Indonesia juga memiliki cadangan emas yang besar. Efeknya adalah Indonesia memiliki nilai tawar yang semakin kuat di luar negeri dan ongkos pinjaman luar negeri dapat lebih murah. Cadangan Emas Indonesia saat ini tercatat sebesar 78,1 Ton, sedangkan cadangan yang terkandung di Freeport sebesar 38,3 juta oz atau 1.085 Ton. Sedangkan Cadangan emas Freeport senilah 14 kali lebih tinggi dari pemerintah Indonesia. JACKPOT,,,,!!! Emas bro emas.

Harga emas saat ini sekitar US$ 1.150 masih dibawah 40% dari harga tertingginya. Emas dinilai sebagai nilai lindung pada situasi ekonomi krisis. Apabila suatu negara memiliki cadangan emas yang besar maka kepercayaan dari negara lain tetap ada. Hal inilah yang harus menjadi salah satu pemikiran dalam memiliki 51% saham Freeport.

Pemerintah meminta menaikkan saham milik pemerintah menjadi 51 % yang artinya peluang untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat di perbesar atau kesejahteraan masyarakat dapat meningkat dibandingkan dengan pembangunan yang hanya memiliki saham 9,36 %.

Dampak dari perseteruan Freeport dan Pemerintah maka yang dikorbankan adalah Ratusan ribu pegawai yang selama ini mencari makan di PT Freeport akan dipecat dan itu menciptakan banyak pengangguran. Ketika banyak yang nganggur, maka akan berdampak pada ekonomi di Papua. Ketika ekonomi lemah, maka akan diciptakan kerusuhan-kerusuhan kecil yang akan diperbesar oleh pihak Freeport maupun Pemerintah sendiri. Ini memang cara yang SANGAT LICIK untuk mengorbankan Masyarakat Papua.

Masyarakat di jadikan Umpan untuk kepentingan kedua belah pihak, saya sebagai pemilik negeri sangat terpukul untuk hal ini. Yang saya pertanyakan adalah Apa sajakah yang sudah di lakukan pemerintah dan Freeport yang masing- masing memperoleh saham senilai diatas terhadap masyarakat setempat Selama ini? Mengapa IPM masih terendah dari 34 Propinsi?. Mengapa Kami yang selalu di korbankan dalam hal ini?

Jika saham Indonesia disepakati 51% apakah masyarakat masih dapat mempercayai pemerintah dalam proses peningkatan pembangunan manusia Papua yang lebih baik dari sebelumnya? Atau Jika Freeport menang dan tetap memegang saham senilai 81,28 % akankah peluang pembangunan manusia ditingkatkan dari sebelumnya? Apakah masyarakat dapat mempercayai kedua belah pihak?
“KARENA JIKA FAKTANYA PEMERINTAH DAN FREEPORT TAK SERIUS MENANGANI MANUSIANYA SEPERTI SELAMA INI MAKA, ADA ATAU TAK ADA FREEPORTPUN TAK BERPENGARUH BAGI KAMI MAKA JANGAN KORBANKAN NYAWA KAMI SEBAGAI TARUHAN KESERAKAHAN KALIAN”. 

------------------
Penulis adalah Mahasiswi Papua di Universitas Kristen Satia Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah.


Posted by: Otis E. Tabuni
Copyright ©Tabloid WANIHubungi kami di E-Mail: tabloid.wani@gmail.com

Post a Comment

Silahkan beri KOMENTAR anda...!!! dibawa sini... :p

 
Top